Sidang PETI, Saksi Ahli Akui Terdakwa AAN Tak Miliki Izin dan Layak Dituntut Pasal 158 UU Minerba

Editor: dailysatu author photo

dailysatu.com - Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan dua saksi ahli dalam kasus penambangan emas tanpa izin di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), yakni Horas Edison dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Wilayah VI dan Faisal Nasution dari Dinas Perizinan Provinsi Sumatera Utara. Dari kesaksian para saksi ahli ini mereka juga menyebut terdakwa Akhmad Arjun Nasution sebagai penambang emas tanpa izin. 

Horas Edison, yang merupakan Kasubbag dari Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Wilayah VI menjelaskan bahwa tugas perwakilan Kementrian ESDM Wilayah VI hanya memberi pengarahan dan pembinaan kepada para penambang yang memiliki izin saja. Dia juga menjelaskan bahwa terdakwa tidak pernah terdata sebagai penambang yang memiliki izin. 

"Sepengetahuan saya, terdakwa tidak pernah kita lakukan pembinaan Yang Mulia. Untuk masalah perizinan itu memang tugasnya Dinas Perizinan Propinsi. Namun, jika para penambang yang memiliki izin pasti ada datanya dengan kami," jelasnya ketika menjawab pertanyaan Hakim Ketua, Arief Yudiarto dalam sidang lanjutan kasus PETI di Pengadilan Negeri Kabupaten Madina, Kamis (7/7).

Horas juga dengan jelas menegaskan kepada majelis Hakim dengan melihat perbuatan terdakwa, sudah pantas terdakwa dianggap melanggar Undang-Undang Minerba Pasal 158. Ungkapan Horas ini juga dibenarkan oleh Faisal Nasution yang juga merupakan saksi ahli dari Dinas Perizinan Propinsi Sumatra Utara. 

Dalam keterangannya, Faisal mengatakan proses izin pertambangan tidak bisa dikeluarkan untuk terdakwa karena, terdakwa tidak pernah melakukan pengurusan izin kepada Dinas Perizinan. Selain itu, lokasi tambang terdakwa, dalam informasi dari Penyidik yang memeriksa saksi tidak layak dijadikan pertambangan. 

"Benar Yang Mulia, Terdakwa tidak pernah punya izin. Proses pengurusan izin ini juga dimulai dari kajian lingkungan Yang Mulia. Jika kajian lingkungan tidak layak makan izin pertambangan tidak akan bisa kami berikan. Lokasi terdakwa ini juga sangat dekat dengan bibir sungai, dari informasi penyidik kepada saya kemarin Yang Mulia," jelas Faisal dalam memberikan kesaksian. 

Mendengar kesaksian para saksi ahli ini tampaknya membuat terdakwa gagap menjawab pertanyaan majelis hakim bahkan JPU juga tampak emosi mendengar jawaban terdakwa yang berulang-ulang dan berbeda-beda. 

"Terdakwa saya hanya ini bertanya apakah informasi dari para saksi ahli tadi benar. Usaha pertambangan yang saudara terdakwa jalankan tidak memiliki izin dari instansi terkait," tanya JPU, Putra Marsudi SH. 

Namun dengan pertanyaan itu, tampaknya terdakwa AAN tampak gugup. Sehingga dia berusaha menghindar dan seolah-olah tak mendengar pertanyaan dari JPU tersebut. Akhirnya sidang ditunda hingga Kamis depan dengan agenda, saksi-saki yang akan dihadirkan oleh terdakwa. (Reza).

Share:
Komentar

Berita Terkini