Sidang Penganiayaan Wartawan, PH Terdakwa Hadirkan Saksi yang Ajak Korban Berdamai

Editor: romi syah author photo


dailysatu.com-Sidang lanjutan Kasus penganiayaan wartawan di Mandailing Natal kembali digelar. Agenda sidang yang dilaksakan Jumat, (15/7) ini memeriksa saksi-saksi yang diajukan oleh Kuasa Hukum para terdakwa. 

Namun nampaknya saksi-saksi yang dihadirkan ini hanya menjelaskan upaya damai yang dilakukan keluarga terdakwa dengan korban, Wartawan Topmetronews.com, Jeffry Barata Lubis. Dua orang saksi yang dihadirkan, Khairil Amri, Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Madina dan salah seorang pengurus MPC Pemuda Pancasila (PP) Madina, Abdul Wahab Dalimunthe. 

Dalam kesaksiannya, Khairil menjelaskan kepada hakim perihal upaya perdamaian yang dilakukan oleh pengurus PP terkait penganiayaan terhadap korban. Khairil menceritakan bahwa korban enggan bertemu dengan para negoisator karena tidak mau membuat keluarga dan anak korban trauma. 

"Kami datang dengan lima mobil. Tapi memang tidak langsung bertemu dengan korban. Kami menemui kepala dusunnya terlebih dahulu. Kami pun menceritakan maksud kedatangan kami dengan kepala dusun. Kemudian, kepala dusun mendatangi rumah korban, tapi kami tidak ingin ditemui korban alasannya itu karena takutnya anak-anak korban trauma dan ada beban kawan-kawan di pundak korban," ucap Saksi di depan Majelis Hakim yang dipimpin oleh Arief Yudiarto, SH. 

Usai menceritakan itu, hakim bertanya apa maksud beban di pundak korban yang disampaikan oleh saksi. Kemudian saksi mengatakan, sepertinya beban yang dimaksudkan korban adalah beban dari kawan-kawan jurnalis di Madina. 

"Mungkin Yang Mulia, beban kawan-kawan wartawan. Soalnya saya dapat informasi, setelah kejadian itu, wartawan kumpul di Cafe Lopo Mandailing, tapi saya tidak tahu apa yang mereka bicarakan Yang Mulia," jelas Saksi. 
Saksi juga menjelaskan, upaya perdamaian ini juga dilakukan mereka setelah para terdakwa ditahan di Mapolda Sumut usai beberapa hari terdakwa melarikan diri. Menurut saksi upaya damai ini dilakukan tidak ada perintah atau suruhan dari siapapun, hanya inisiatif beberapa orang di MPC PP Madina. 

Mendengar pengakuan saksi yang dihadirkan oleh Kuasa Hukum terdakwa penganiayaan wartawan, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Madina, Muhammad Ridwan pun angkat bicara. Menurutnya, usai peristiwa penganiayaan terhadap korban, dia bersama pengurus PWI Madina dan seluruh wartawan yang aktif di Madina memang berkumpul membahas permasalahan ini. 

"Dengan tegas saya bersama kawan-kawan wartawan di Madina, sekitar 60 orang pada saat itu, memang meminta ke Bang Jeffry untuk tidak berdamai. Jika mau memaafkan silahkan. Namun proses hukum harus tetap berjalan, peristiwa ini runtutan dari peristiwa yang terjadi sekitar beberapa bulan sebelum kejadian itu, otak pelakunya kita duga sama yaitu Saudara Arjun," jelas Ketua PWI Madina kepada dailysatu, di Kantor PWI Madina, Jumat (15/7) sore. 

Ridwan menjelaskan, Arjun yang diduga otak pelaku penganiayaan ini kerap berulah dan mengancam jika wartawan memberitakan tambang emas ilegal yang dikelolanya. Bahkan sekitar bulan Januari 2022, Arjun pernah mengancam salah seorang wartawan dengan kata-kata tak sedap. 

"Dua bulan sebelum kejadian penganiayaan terhadap Bang Jeffry, ada wartawan bernama Adi melapor ke kami pengurus PWI. Dia diancam oleh saudara Arjun dengan kata-kata tak sedap jika terus memberitakan perihal tambang emas ilegal yang dikelolanya. Setelah kita laporkan dan proses hukum, ternyata rekan kita si Adi terlebih dahulu menerima maaf dari Arjun. Tapi setelah itu, ternyata Saudara Arjun terus juga menebar teror untuk wartawan yang memberitakan tambang emas ilegal," ungkap Ridwan. 

Melihat kejadian yang menimpa anggotanya di PWI, Ridwan pun meminta dan berharap agar korban menolak pertemuan untuk upaya damai dalam peristiwa itu. Selain tidak ingin menambah beban traumatis bagi keluarga korban, Ridwan juga menilai jika Korban berdamai ditakutkan Marwah dan harga diri wartawan di Madina seolah bisa dibayar dengan kata maaf. 

"Mari kita liat cctv yang viral itu, jelas Bang Jeffry dipukuli membabi buta. Saya secara pribadi memang menyampaikan kepada Bang Jeffry jangan mau bertemu siapapun yang ingin mendamaikan. Kasihan nanti anak-anak Abang. Itu saya sampaikan, lebih baik Abang tolak, dan jika abang mau memaafkan itu hak Abang. Tapi untuk berdamai saya berharap abang bisa lihat kami. Itu saya sampaikan berulang kali dengan Bang Jeffry," tegas Ridwan.(Reza).


Share:
Komentar

Berita Terkini