Meski Terindikasi Kawasan HPT PT.PSU Akui Mengutip Hasil Kebun Simpang Koje Dan Kampung Baru

Editor: romi syah author photo


dailysatu.com- Mantan Direktur Utama PT Perkebunan Sumatera Utara ( PSU ) Kabupaten Mandailing Natal periode 2019 - 2021 Ghazali Arif mengaku mengutip hasil lahan kebun Simpang Koje dan Kampung Baru selama 3 tahun kepemimpinannya.


Meski ia tau bahwa proses ganti rugi terhadap dua lahan tersebut bermasalah dan diduga posisinya berada diluar izin lokasi.


"Iya kami mengambil hasilnya setiap saat dan disetorkan ke PT.PSU," ucap Ghazali Arif dihadapan majelis hakim diketuai Sulhanuddin terkait dugaan korupsi PT. PSU ketika memberikan kesaksian melalui daring di ruang Cakra 2 Pengadilan Negeri (PN) Medan, Kamis (16/6/2022).


Dihadapan majelis hakim, Ghazali Arif juga mengaku selama menjabat Dirut PT. PSU dua lahan dimaksud (Simpang Koje dan Kampung Baru) belum menjadi masalah.


Diduga diakhir masa kepemimpinannya sebelum memutuskan mengundurkan diri, Ghazali melaporkan hal tersebut ke Kejaksaan Tinggi Sumut, meski selama 3 tahun memimpin ia tidak mempersoalkannya bahkan setiap saat mengutip hasilnya.


Menjawab pertanyaan Jaksa sebelumnya, saksi secara tegas menyebutkan tidak dibenarkan melakukan proses ganti rugi baik di lahan Simpang Koje maupun Kampung Baru yang lahannya berada diluar izin lokasi. Namun Ghazali mengaku mengetahui adanya ganti rugi diluar izin lokasi dari staf dan menafsirkan sendiri terkait hal tersebut.


Namun ketika ditanya kembali oleh penasehat hukum terdakwa Heriati Chaidir yakni OK Iskandar, apakah lahan yang disebutkan bermasalah di Simpang Koje dan Kampung Baru diambil hasilnya oleh PT.PSU?, saksi Ghazali secara tegas juga mengaku menikmati hasil dari dua lokasi kebun yang disebutnya tidak boleh diganti rugi dan saat ini menjadi persoalan hukum.


Ketika Ok Iskandar mempertanyakan apa yang saksi lakukan menyikapi hal tersebut? 


"Disatu sisi anda bilang tidak dibenarkan melakukan ganti rugi diluar izin lokasi sedang kenyataannya anda menikmati dan memanen hasilnya selama 3 tahun. Dan setelah anda tak jadi Dirut lagi barulah ini menjadi masalah. Pertanyaan saya apakah saudara yang melaporkan ke Kejatisu, trus saudara mengundurkan diri?," tanya OK Iskandar.


Mendengar pertanyaan tersebut, Ghazali tampak bingung.


"Memang selama ini hasilnya saya ambil tapi bukan saya yang melaporkan," cetus saksi.


Bahkan ketika ditanya terkait penyitaan, Ghazali juga mengaku tidak begitu tau. 


Sementara saksi mantan Direktur Keuangan Dilson Silaen yang dicecar baik oleh kuasa hukum Heriati Chaidir maupun Darwin Sembiring mengaku banyak tidak tau, tidak ingat dalam kasus tersebut.


Dilson Silaen juga mengungkapkan ia tidak pernah dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan atau rapat - rapat penting, sehingga tidak tau apa - apa dan tau informasi hanya dari orang lain.


"Saya hanya tau dari orang - orang di warung kopi, bukan saya alami sendiri," ucapnya.


Malah ketika Jaksa membantu saksi dengan menunjukkan berkas Berita Acara Pemeriksaan (BAP), bukan malah membuat saksi mengingat justru dia mengaku tidak ingat apa-apa terkait BAP.


"Saya 'blank' pak hakim," katanya terus terang.


Sehingga hakim akhirnya berinisiatif untuk menghentikan keterangan saksi.


"Iya sudahlah kalau saudara tak ingat," ucap hakim sambil mempersilahkan saksi meninggalkan ruang sidang.


Sementara itu saksi Kabag Keuangan Sahabat Ali menerangkan, bahwa pada tahun 2010 PT. PSU ada mengganti rugi tumbuh tanam ke warga masyarakat.


Jumlah total ganti rugi tumbuh tanam di era Dirut Heriati Chaidir sekitar Rp.22 miliar dan sisanya Rp 3 miliar di masa Direktur Utama selanjutnya yakni Darwin Nasution.


Sedangkan ganti rugi untuk kebun Kampung baru seluruhnya dibayarkan di Era Darwin Nasution senilai Rp 66 miliar. Namun diakui saksi dari dua lahan tersebut terdapat selisih karena tumbuh kembang tanaman di Simpang Koje dengan Kampung Baru jauh berbeda.


Jumlah total ganti rugi di lahan Simpang Koje yang dibayarkan 22 Miliar di Era Dirut Heriati Chaidir dan sisanya 3 miliar lebih di masa Dirut Darwin Nasution.


Sedangkan ganti rugi Kampung Baru dilakukan di Era Darwin Nasution sebanyak 66 miliar.


Namun terjadi selisih pembayaran jumlah pembayaran ganti rugi antara Simpang Koje dan Kampung Baru. Hal tersebut bisa terjadi karena tanam tumbuh dikedua lahan tersebut berbeda.


Sementara 6 saksi lain yakni Syawaluddin, Mahmuddin, Kamaluddin yang masing masing merupakan Kasubbag Keuangan, Kasubbag Akutansi dan karyawan lainnya secara serentak menyatakan bahwa benar PT. PSU telah melakukan pembayaran ganti rugi baik di lahan kebon Simpang Koje maupun Kampung Baru.


Sementara diluar persidangan, OK Ibnu Hidayah yang sebelumnya mencecar habis - habisan saksi Sahabat Ali sebagai Kabag Keuangan menyebutkan, terkait ganti ganti yang disebutkan berada di kawasan Hutan produksi terbatas (HPT) Simpang Koje kemudian diareal lahan plasma dan areal PT RNM (perkebunan swasta).


Ternyata yang dianggap sebgai kerugian adalah biaya investasi dan secara tegas disebutkan oleh Saksi Sahabat Ali bahwa areal tersebut secara neraca masih teregister sebagai aset PT. PSU dan masih dikelola hingga saat ini dan kerugian itu belum timbul.


"Kerugian timbul pada tahun 2020 ketika Ghazali Arif sebagai Direktur Utama menghentikan operasional PT. PSU, disitulah muncul kerugian," jelas OK Ibnu.


Kemudian lanjutnya pada tahun 2021 dikerjakan lagi lahan tersebut melalui UU Cipta Kerja.


Sedangkan terkait plasma, bahwa pencatatan kerugian harus dikembalikan oleh koperasi melalui pencatatan piutang plasma.


"Artinya sebenarnya tidak ada kerugian, karena itu utang koperasi ganti rugi yang berada areal plasma," sebut Ibnu.


Hal itu juga ditegaskan oleh 3 saksi, bahwa piutang koperasi yang harus dilunasi plasma sebagai utang.


Begitu juga soal PT RNM menurut OK Ibnu bahwa hingga saat ini perusahaan tersebut tidak ada mengajukan keberatan, bahkan lahan tersebut masih terhitung sebagai areal PT.PSU.


"Karena secara jelas tadi kita lihat tidak ada saksi - saksi yang bisa menguraikan dimana letak kerugian negara dalam kasus tersebut," pungkas Ibnu.(ds/sagala)

Share:
Komentar

Berita Terkini