Memanas!!! Dihadapan Majelis Hakim Tiga Saksi Kunci Kasus Dugaan Korupsi PT PSU Cabut Keterangannya Di BAP

Editor: romi syah author photo


dailysatu.com- Sidang lanjutan kasus dugaan korupsi PT Perkebunan Sumatera Utara  ( PSU) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) di ruang Cakra 2 Pengadilan Negeri ( PN) Medan, Kamis (2/6/2022) berlangsung panas.


Pasalnya sidang yang dipimpin ketua Majelis Hakim Sulhanuddin dan dua hakim anggota As'ad Lubis dan Husni Tamrin itu diwarnai saling interupsi antara JPU dan Penasihat hukum terdakwa, dikarenakan keterangan saksi yang berubah-ubah dan akhirnya saksi mencabut sebagian keterangannya di BAP penyidik Kejatisu.


Ketiga saksi kunci yakni Toni Aquino, Dedy Chandra Azki Imran yang mencabut keterangan di BAP tersebut merupakan juru ukur di PT Perkebunan Sumatera Utara.


Dihadapan Majelis Hakim, saksi Toni Aquino akhirnya menyerah dan mencabut keterangannya setelah dicecar habis oleh tim kuasa hukum terdakwa Darwin Sembiring yakni Dr Ok Isnaini SH, MH, M.Sa'i Rangkuti SH, MH, Datuk Zulfikar SH dan Rizky Fatimantara Pulungan SH.


Tampak saksi Toni tak berkutik dan langsung menyatakan mencabut keterangannya di BAP saat terdakwa Darwin Sembiring menunjukkan bukti surat penolakan yang dibuatnya terkait pembayaran ganti rugi diluar izin lokasi PT PSU di Kampung Baru Madina yang turut ditandatangi oleh saksi.


Mendengar hal tersebut JPU Putri dari Kejatisu lantas bertanya dengan suara tinggi kepada saksi.


"Jadi saudara bantah keterangan di BAP, ingat saudara sudah disumpah," kata JPU.


Mendengar hal tersebut, saksi Toni Aquino pun dengan tegas mengaku keterangan yang benar adalah sesuai fakta persidangan seraya menyatakan mencabut keterangannya di BAP penyidik Kejatisu.


Selain soal ganti rugi, Toni yang  berpendidikan SMA juga mengaku tidak memiliki sertifikasi soal metode pengukuran. Ia mengatakan teknik pengukuran yang dilakukannya hanya berdasarkan data yang diterimanya dari Badan Pertanahan Negara (BPN).


Tak hanya itu, ia juga menegaskan perintah melakukan pengukuran izin lokasi PT PSU saat kepemimpinan Dirut Darwin Nasution adalah berdasarkan perintah lisan dari Asisten Kepala (Askep) Armen untuk lokasi Simpang Koje dan Askep Riswan Effendi untuk lahan Kampung Baru.


Nah sebelum mencabut keterangannya, Toni Aquino juga mengaku tidak mengetahui persis berapa hektare lahan PT. PSU yang berada di dalam izin lokasi maupun diluar izin lokasi. Bahkan ia tidak tahu tapal batas antara kebun PT. PSU dengan PT. RMN maupun dengan kawasan hutan.


Hasil pengukuran kata saksi dilaporkan kepada Askep, dan selain dirinya ada juga sejumlah panitia staf dan juru bayar yang ikut turun ke lapangan.


Saksi juga menjelaskan ada sebgaian lahan yang masuk dan diluar izin lokasi sesuai data di BPN pada waktu pengukuran sejak 2007 hingga 2010 tidak ada membawa peta izin lokasi.


Begitu juga dengan dua saksi lain yakni Dedy Chandra dan Azki Imran yang merupakan anak buah Toni Aquino yang didengar keterangannya juga akhirnya mencabut keterangannya di BAP.


Baik Dedy maupun Azki akhirnya mengaku setelah diperlihatkan bukti banyak tandatangan mereka oleh terdakwa Darwin Sembiring.


Namun berbeda dengan Toni, tandatangan Dedy dan Azki merupakan bukti pengukuran yang telah diganti rugi tanaman, serta bangunan di kawasan  Kampung Baru yang telah dibayarkan oleh terdakwa Darwin Sembiring.


Diluar persidangan Ketua Tim Penasihat Hukum terdakwa Darwin Sembiring, Dr OK Isnaini mengatakan, dari fakta persidangan tiga saksi yang mencabut sebagian keterangannya di BAP menunjukkan bahwa penyidikan yang dilakukan terhadap ketiga saksi ada indikasi diarahkan.


"Jadi apa yang terungkap dalam persidangan dengan dicabutnya sebagian keterangan oleh ketiga saksi menunjukkan kebenaran materil dalam hukum pidana," ungkap OK Isnaini.


Karena itu OK Isnaini berharap, dengan terbuka fakta persidangan akan memperkuat keyakinan hakim untuk memberikan putusan yang adil dalam perkara ini dan pada akhirnya membebaskan terdakwa Darwin Sembiring dari dakwaan Jaksa Penuntut Umum.(ds/sagala)

Share:
Komentar

Berita Terkini