Lapor pak Polisi!!! Ada Pungli Berkedok Portal di Desa Batang Kumu, ini lokasinya

Editor: romi syah author photo


dailysatu.com- Portal ampang-ampang 'berbayar' di Desa Batang Kumu dikeluhkan sejumlah masyarakat khususnya pemilik lahan sawit yang melintas di Dusun Terlena, Dusun Tangkerang dan Dusun Kaporo.


Berdasarkan, penelusuran dailysatu.com, yang turun ke ketiga titik portal ampang-ampang 'berbayar', Selasa 17 Mei 2022. Diketahui, bahwa ketiga portal ampang-ampang tersebut dikelola oleh pihak perorangan.


Seperti di Dusun Tangkerang, dikelola oleh Antoni Simatupang, di Dusun Terlena dikelola Kasiran Situmorang dan Dusun Kaporo dikelola oleh Hasan Hasibuan.





Dari informasi yang diperoleh wartawan dari petugas jaga portal 'berbayar' itu kalau setiap truck pengangkut buah sawit  yang melintas dikenakan tarif sebesar Rp.10/kg.


"Jadi, hitungannya berapa tonasenya itulah dikalikan Rp.10/kg, misal 10 ton ya berarti Rp 100 ribu dibayar, "ujar Dendi petugas jaga di Portal Ampang-Ampang di Dusun Kaporo.


Disinggung, berapa jumlah pengutipan perhari yang diperoleh dari portal 'berbayar' itu, Dendi yang mengaku baru tiga bulan menjadi petugas jaga portal tersebut mengaku kalau setiap harinya bisa memperoleh Rp.400- 500 ribu per hari.


Dari hasil itu, timpal Hasan Hasibuan yang mengaku kepada wartawan pengurus dari pengelola portal, menyebutkan untuk keperluan dusun diantaranya perkerasan dan perbaikan jalan di Dusun itu.


"Setidaknya setiap tahun dari hasil itu untuk perbaikan dan perkerasan jalan di Dusun ini (Kaporo), "jelasnya.


Hasibuan juga mengaku, dari hasil penerapan portal 'berbayar' yang sudah dimulai sejak 2018 lalu digunakan untuk sumbangan ke mesjid dan kebutuhan lainnya yang menjadi kebutuhan warga di Dusun Kaporo.


Pengakuan sama juga dilontarkan para petugas jaga di portal ampang-ampang di Dusun Terlena dan Dusun Tangkerang.


"Pokoknya hitungannya per 1 ton truk yang mengangkut hasil sawit yang melintas disini bayar Rp 10 ribu lah bang,"kata perempuan penjaga portal yang disebutnya milik Haji Tupang (Antoni Simatupang).


Ditanya kenapa jalan di Dusun Tangkerang itu di portal dan dikenakan tarif , perempuan penjaga yang enggan beritahu namanya itu menyebutkan kalau jalan itu diperbaiki secara pribadi oleh Haji Tupang.


"Karena dulu jalan ini kan jelek kali bang, jadi haji tupang lah yang memperbaikinya pakai uang pribadinya.Setelah itulah, jalan ini diportal dan truk yang melintas dan membawa buah sawit harus bayar, "katanya yang mengaku sudah 8 tahun melakoni jaga portal berbayar itu.


Anehnya, hasil peninjauan langsung awak media ini pengutipan bagi truk pembawa buah sawit tidak menggunakan karcis atau tanda bukti pembayaran.


Sehingga disinyalir bahwa kutipan itu dipergunakan untuk kepentingan pengelola tanpa berkontribusi untuk kas Desa Batang Kumu. 


Berbeda dari pengakuan dari penjaga portal ampang ampang di tiga titik itu, salah seorang masyarakat yang memiliki lahan sawit yang melintas justru mengeluhkan mahalnya tarif untuk portal ampang-ampang berbayar itu.


Dia mengaku, kalau untuk per kilonya dikutip Rp 30/kg. "Jadi, kalau 1 ton bayar Rp 30 ribu lah,"keluhnya.


Dengan penerapan portal berbayar itu, dirinya mengaku menambah biaya untuk panen buah sawit miliknya. Apalagi, sambungnya seperti saat ini harga Tandan Buah Segar (TBS) lagi anjlok dan pupuk semakin meroket. Justru, semakin 'mencekik' para petani sawit.


"Tapi, cemanalah, mau enggak mau kami harus bayar, kalau enggak bayar, enggak dikasih lewat truk kami itu. Udah kami laporkan juga ini ke Kantor Kepala Desa untuk segera ditindaklanjuti, "keluhnya.


Kemudian, wartawan pun mencoba menghubungi Kepala Desa Batang Kumu, Normal Harahap apakah portal 'berbayar' di tiga titik tersebut masuk menjadi kas Desa.


Normal Harahap pun menyebut, kalau portal ampang-ampang 'berbayar' itu tidak sepeserpun masuk ke kas desa.


"Enggak, enggak ada masuk ke kas desa itu.Itu dikelola perorangan.Makanya, udah ada ini pengaduan dari sejumlah masyarakat yang mengeluhkan portal 'berbayar' itu. Bahkan, pengaduan itu juga udah dilaporkan ke Polres Rohul.


"Udah, udah dilaporkan juga ke Polres Rohul, "katanya.


Dia berharap, pihak aparat kepolisian khususnya Polres Rohul segera menindak pengelola portal berbayar di 3 Dusun itu.


"Ini jelas pungli, masyarakat pun juga mengeluh.Apalagi, pengutipan itu dilakukan secara pribadi tanpa ada aturan jelas,"sebutnya.


Dan Normal Harahap menyampaikan harapan dan dukungan kepada para awak media dan lembaga-lembaga sosial kontrol di Rohul untuk mengawal persoalan dugaan pungli berkedok portal berbayar yang telah berlangsung bertahun-tahun.


"Ayo, sama sama kita berantas pungli di Desa Batang Kumu ini, "tutupnya.(ds/ali/***)













Share:
Komentar

Berita Terkini