Ditanya PH Heriati, Saksi Manager Kebun Simpang Koje Tampak Bingung

Editor: romi syah author photo


dailysatu.com- Saksi Manager Kebun Simpang Koje tahun 2015-2016 Harun Ar Rasyid tampak bingung menjawab pertanyaan dari OK. Iskandar, SH, MH dan OK. M. Ibnu Hidayah, SH, MH, C.L.A selaku penasehat hukum terdakwa Ir. Heriati Chaidir dalam sidang yang digelar di ruang Cakra 2 Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Medan, Senin (9/5/2022).


Hal itu bermula ketika OK M. Ibnu Hidayah menanyakan apakah saksi dapat menunjukkan lokasi, dengan lambat saksi menjawab tidak paham. 


Dalam sidang tersebut saksi juga mengatakan kalau Prosedur ganti rugi itu prosesnya sangat ketat dan saksi katakan katakan kalau saat ia bekerja ditahun 2015 PT PSU tidak rugi.


"Kalau dulu waktu saya bekerja 2015 menguntungkan, tapi sekarang merugikan Pak," ucap saksi.


Dalam sidang yang dipimpin oleh ketua Majelis Hakim Sulhanuddin dan dua hakim anggota As'ad Lubis dan Husni Thamrin itu sempat tegang, pasalnya ketika OK Iskandar bertanya kepada saksi, Jaksa Penuntut Umum spontan menjawab pertanyaan penasehat hukum terdakwa Heriati. 


Mendengar hal tersebut, OK Iskandar pun langsung menyental JPU.


"Tadi saudara bertanya tidak saya sanggah, sekarang saya bertanya jangan saudara sanggah," tegas OK Iskandar.


Nah ketika ditanya oleh hakim anggota, Husni Thamrin, di BAP kan ada saudara bilang fiktif, apa yang fiktif ini? Sebagai Satuan Pengawas Internal SPI apa yang ditemukan? 


Mendengar pertanyaan Majelis Hakim, saksi sempat diam dan menjawab bingung.


"Bingung Pak. Kampung baru tidak ada pemupukan 5 tahun. Anggarannya ada, informasi perusahaan uangnya tidak ada Pak," cetus saksi.


Saat ditanya apakah ada saksi periksa terdakwa Heriati?, saksi menjawab bahwa ia tak sempat memeriksanya.


"Gak sempat saya periksa kalau Darwin Sembiring pernah saya periksa," ungkap saksi.


Menjawab pertanyaan Hakim Anggota As'ad Lubis saksi mengungkapkan seharusnya Andi Mulia yang menyampaikan ke direksi. 


"Saya hanya menyampaikan hanya sekali Pak. Seharusnya dia yang menyampaikan Pak, dia atasan saya Pak," ujar saksi.


Mendengar hal tersebut, Hakim langsung memarahi saksi.


"Jangan cerita uang saja saudara tahu, karena itu makanya gak dipupuk. Uang itu mengalir ke dia M Safii. Kenapa gak saudara periksa Safii? Malah masuk ke rekening pribadi lagi," tegas Majelis Hakim.


Diluar sidang OK M. Ibnu menjelaskan bahwa keterangan kedua saksi yakni Harun Ar Rasyid, Manager Kebun Simpang Koje tahun 2015-2016 dan Eka Sameta, Manager Simpang Koje Tahun 2016-2019 bahwa mereka tidak mengetahui prosedur ganti rugi.


"Bahwa mereka tidak mengetahui prosedur ganti rugi karena saksi-saksi tersebut memang belum bekerja di simpang koje pada tahun 2007-2010. Hanya saja mereka mengakui ada melihat patok HGU dan adanya areal PT. PSU yang ditanam belum terbit HGU nya. Nah sekarang yang menjadi permasalahan dipersidangan adalah adanya klaim yang menyatakan bahwa areal yang dipersengketakan seluas 612 hektare ini merupakan kawasan hutan. Sementara saksi sampai sekarang belum ada menjelaskan secara spesifik, apakah kawasan hutan yang dimaksud ini masuk areal yang ditunjuk sebagai kawasan hutan atau areal yang sudah ditetapkan sebagai kawasan hutan, karena ini berbeda. Jadi yang kami pertegaskan areal yang dipersengketakan ini belum masuk kawasan hutan, karena masih penunjukan. Menurut kami keterangan saksi tadi belum lengkap, karena hanya sekedar sepotong-sepotong, dan saksi tidak memahami secara persis bagaimana mengenai kawasan hutan ini," tegas OK M. Ibnu. 


Selain itu OK M. Ibnu juga mengungkapkan kalau keterangan saksi Harun Ar Rasyid mengenai areal pembibitan sangat berbeda. Saksi Ar Rasyid mengatakan kalau lahan pembibitannya sekitar 5 hektare, sementara dalam dakwaan JPU 600 hektare.

Share:
Komentar

Berita Terkini