Madina Berduka, LSM LIRA dan Hinca Kutuk Tragedi Longsor di Eks PETI

Editor: romi syah author photo


dailysatu.com-Musibah longsor Kamis (28/4) sore kemarin,  yang menimpa 12 ibu rumah tangga di tambang emas ilegal di Kecamatan Lingga Bayu, Bupati LSM LIRA Madina, Ali Musa Nasution melalui Wakil Sekertaris LSM LIRA Madina M Syawaluddin mengatakan apa yang dikhawatirkan selama ini akhirnya terjadi. 


Hal ini dimana bekas lahan tambang emas ilegal akan menjadi petaka baru bagi masyarakat di sekitar lokasi tambang emas ilegal. Hal ini diungkapkannya ketika melihat tragedi menyedihkan ini. 

"Jelang lebaran, saat itu pula mereka membutuhkan dana untuk menjalankan lebaran. Ini sangat riskan memang. Pihak Polres Madina harus gerak cepat untuk menutup semua tambang-tambang emas ilegal di Madina. Ini sudah ancaman yang baru," jelas M Syawaluddin. 

Dia juga berharap selain pihak Aparat penegak hukum, Pihak Pemkab Madina juga harus pro aktif kepada masyarakat. Tujuannya untuk mensosialisasikan kepada masyarakat bahaya lokasi tambang emas ilegal. 

"Ada undang-undang minerba yang bisa dikenakan terhadap pemilik tambang emas ilegal. Ini sudah seperti pembunuhan terencana. Habis hasilnya digali, lokasinya dibiarkan begitu saja. Tanpa diperbaiki seperti keadaan semula," tutunya. 

Senada dengan hal ini, Anggota Komisi III DPR RI, Hinca Panjaitan sangat berduka dengan kejadian ini. Dia melihat kejadian ini adalah proses pembiaran dari lemahnya penegakan regulasi di tingkat desa dan kabupaten di Sumatera Utara. 

Menurut Hinca, kejadian ini seharusnya tidak perlu terjadi jika sejak lama, pihak Kementrian Energi, Sumber Daya Mineral bersikap tegas. 

"Saya sungguh terkejut mendengar tragedi ini. Saya berduka yang sedalam-dalamnya untuk para keluarga korban yang ditinggalkan. Apalagi mereka adalah ibu-ibu, emak kita. Ini harus menjadi perhatian dari Presiden Jokowi. Jika perlu, copot Menterinya. Harus berapa banyak korban yang jatuh agar segala yang ilegal di Indonesia ini diberhentikan," tegasnya kepada wartawan, Jumat (29/4).

Hinca juga berharap kejadian ini jadi pelajaran bagi Aparat Penegak hukum. Menurut Hinca, APH juga harus benar-benar kerja ekstra dalam mencari siapa pemilik bekas tambang yang longsor tersebut. 

"APH harus cari siapa pemilik tambang yang longsor itu. Hukum seberat-beratnya. Jangan hanya ditangkap, lirik, terus adem ayem. Ini harus sampai dicari dalang-dalangnya. Bahkan, pengepul emas-emas itu juga harus dicari siapa. Ini termasuk dalam mafia yang terstruktur," tegasnya. 

Diakhir, Hinca meminta kepada Kapolda dan Gubernur Sumatera Utara untuk segera menindaklanjuti tragedi ini. Dia menilai tragedi yang menewaskan 12 emak-emak ini. Dia menilai ini sudah menjadi tragedi kemanusiaan yang sangat menyedihkan baik bagi masyarakat di Sumatera Utara maupun Indonesia secara umum. 

Adapun para nama-nama korban dalam tragedi ini, korban tertimbun longsor, Desa Simpang bajole, Nelli Sipahutar, Kana, Nurhayati dan dari Desa Bandar Limabung, Lesma Suryani Rambe, Nurlina Hasibuan ,Sarifah Nasution, Amna Pulungan, Nur Aini Fane, Nur Jaya Sari Pulungan, Nur Afni Lubis, Nur Lina Batubara , Irma Panel. Adapun korban selamat dari desa bandar limabung, Safridah  Lubis, dan Nirwausah Lubis .(Reza)

Share:
Komentar

Berita Terkini