Kasus Penganiayaan Wartawan di Madina, Praktisi Hukum: Polisi Harus Dalami Pengakuan Tersangka

Editor: romi syah author photo


dailysatu.com- Terkait konfrensi pers yang dilakukan Polda Sumut, Senin sore (14/03/2022) perihal kasus penganiyaan yang dilakukan oleh empat orang diduga suruhan tersangka kasus tambang emas ilegal yang kasusnya mengendap setahun lebih di Polda Sumut terhadap wartawan topmetro.news Jeffry Barata Lubis yang bertugas di Kabupaten Madina, menuai kritik dari praktisi hukum pidana Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Tegus Syuhada Lubis. 


Pengacara muda ini menilai dalam pengungkapan kasus ini pihak kepolisian jangan hanya berhenti dengan empat pelaku yang sudah ditangkap. Dia menilai dalam tindakan yang dilakukan oleh keempat pelaku, pasti ada motif dan maksud lain. 


"Dalam unsur pidana, pasti ada motif lain. Jangan berhenti dengan pengakuan dari pelaku saja. Polisi harus mendalaminya. Apalagi bisa dikatakan pelaku dan korban sebelumnya tidak pernah ada hubungan emosional yang dekat,' ucapnya. 


Teguh yang juga dosen fakultas hukum menilai aksi pidana terjadi karena ada hubungan sebab akibat. Dalam hal ini dia menilai tindakan yang dilakukan oleh para pelaku belum terbuka sebab akibatnya. 


"Ada empat unsur dalam hukum pidana, pelaku, orang yang menyuruh pelaku atau dalangnya, dan orang-orang yang membantu pelaku melakukan tindakan kriminal tersebut. Saat ini, pelaku sudah diamankan. Dalami lagi apa kaitannya sehingga pelaku melakukan aksi sadis seperti itu," tegasnya. 


Dia berharap pihak kepolisian, khususnya pihak Polda Sumatera Utara bisa mengungkap kasus ini secara terang dan tuntas. Hal ini dikarenakan, akan berdampak pada keamanan dan kenyamanan wartawan dalam melaksanakan tugasnya. 


Sementara itu, Sekretaris Gerakan Nasional Pencegah Korupsi - Republik Indonesia (GNPK-RI) Sumut, Yulinar Lubis kepada wartawan, Rabu (16/03/2022) menyikapi pernyataan Poldasu bahwa dikarenakan mediasi tidak berlangsung baik, maka dengan inisiatif sendiri dari para tersangka langsung menghajar korban. 


"Jadi sewaktu terjadi pemukulan terhadap korban, ketua para tersangka tidak mengetahui. Artinya tidak ada perintah, hanya inisiatif dari tersangka," ucap Yulinar.


Yulinar menilai penyidik keliru. Seharusnya penyidik teliti dalam mengungkap aktor intelektualnya. Berdasarkan bukti dilapangan dan keterangan para saksi, kasus penganiyaan ini ada keterlibatan aktor yang menyuruh.

Yulinar menjelaskan, keberadaan para tersangka maupun niat tersangka menjumpai korban disebabkan gerah terhadap pemberitaan "sudah jadi tersangka, setahun lebih kasusnya mengendap di tipiter Polda Sumut.


"Artinya tersangka kasus PETI tidak inginkan diberitakan terus menerus. Sebab dampaknya kasus tambang emas ilegal yang sudah menetapkan AAN sebagai tersangka akan diungkap kembali oleh Poldasu.

Yulinar juga menguraikan, penyidik seharusnya juga mengungkap kasus ini dari pertama pertemuan di sebuah Pujasera yang ada di Kelurahan Dalan Lidang Kecamatan Panyabungan. 


"Dipertemuan itu korban JBL diundang bertemu dengan tersangka AL dan temannya AHN yang suruh arau atas arahan AAN untuk mencari solusi agar kasusnya (AAN) yang sudah lama mengendap di Tipiter Poldasu terkait tersangka dalam kasus Tambang ilegal tidak diberitakan lagi oleh korbar, "papar Yuli.


Sebelum bertemu, korban dihubungi AAN tersangka tambang emas ilegal melalu telpon genggam AHN mengatakan kalau ketua mau ngomong. Dalam pembicaraan itu, AAN mengatakan kalau AL dan AHN itu utusannya", cetus Yulinar.


Dikarenakan permintaan AN tidak diindahkan korban, lanjut Yulinar, AL mengatakan akan menyampaikannya sama ketua. Selanjutnya, sekira pukul 17.30 wib AL menghubungi kembali korban dan mengatakan sudah ada keputusan dari ketua. Dan harus disampaikan dengan bertemu langsung dengan korban, tidak bisa pakai telpon.


"Nah, dipertemuan malamnya terjadi penganiayan aksi brutal yang dilakukan empat orang pelaku suruhan. Jelas penganiayan terhadap korban sudah direncanakan", tandasnya.


Dikatakannya lagi, berdasarkan informasi yang dihimpun disekitaran tempat kejadian perkara, keempat pelaku habis melakukan aksi brutalnya kepada korban, mereka semua kumpul lagi di cafe yang letaknya tidak jauh dari tempat kejadian perkara. 


"Berdasarkan informasi, sebelumnya sekitar pukul tiga siang hingga selesai melakukan penganiayan terhadap korban, empat pelaku dan beberapa orang lainnya diduga termasuk AAN pelaku tambang emas ilegal yang sudah ditetapkan tersangka oleh Poldasu ada dilokasi cafe tidak jauh dari tempat kejadian perkara", kata Yulinar.


Maka dari itu, GNPK-RI Sumut menilai penyidik yang menangani kasus penganiayaan terhadap wartawan diduga tidak teliti. Dan patut diduga bahwa penyidik telah main mata terhadap kasus ini.


"Professional lah, jangan tebang pilih. Diduga ada sesuatunya langsung abu-abu. Parahnya, pura-pura tidak tau dalam kasus ini ada aktor intelektualnya dan diduga kuat memang sudah direncanakan", pungkasnya (Reza).

Share:
Komentar

Berita Terkini