Sidang Lanjutan Bripka Ricardo, Terdakwa Sebut Ekstasi Didalam Tasnya Diperoleh Dari Doger

Dibaca:
Editor: dailysatu author photo

dailysatu.com - Sidang lanjutan terdakwa Bripka Ricardo Siahaan yang digelar di ruang Cakra 9 Pengadilan Negeri Medan, Selasa (11/1/2022) menguak fakta baru. Dalam persidangan yang dipimpin ketua Majelis Hakim, Ulina Marbun tersebut, terdakwa Ricardo mengakui bahwa 1 butir pil ekstasi dalam tas miliknya merupakan hasil pancing beli dari target yang bernama Doger. 

"Waktu itu saya beli 150 ribu yang mulia. Saya dapat dari Doger warga S Parman, Gang Pasir atas hasil pancing beli yang mulia," kata Ricardo.

Menjawab pertanyaan Majelis Hakim, Ricardo katakan sebagai polisi dirinya berwenang untuk menyimpan hasil pancing beli tersebut selama masih berlaku surat tugas. Selain itu Ricardo juga menegaskan kalau 1 butir ekstasi hasil pancing beli tersebut tak diserahkan ke kantor nya dikarenakan sedang banyak kegiatan.

"Karena masih banyak kegiatan, makanya belum diantar ke kantor yang mulia," ucapnya.

Nah di persidangan tersebut terdakwa juga menjelaskan kenapa dirinya tak langsung menangkap Doger.

"Karena kita akan membeli 1.000 butir tiga hari kemudian yang mulia. Ijin yang mulia, saya pernah pancing beli 1 kg sabu tidak saya tangkap yang mulia, setelah kita beli 15 kg baru ditangkap yang mulia," terangnya.

Ketika ditanya Majelis Hakim apakah perbuatannya salah atau tidak, Ricardo tampak tersenyum.

"Dikatakan salah gak juga, dikatakan benar gak juga, karena kita polisi narkoba punya wewenang yang mulia," ungkapnya.

Sementara menjawab pertanyaan dari H.M Rusdi SH, MH didampingi Ronny Perdana Manullang, SH selaku penasehat hukumnya, Ricardo juga mengakui bahwa dirinya ada mengeluarkan uang pribadi untuk perdamaian. 

"Ada keluar sebesar Rp 500 juta, untuk uang perdamaian," ucapnya.

Ketika ditanya oleh H.M Rusdi keterangan mana yang benar, apakah  keterangan Imayanti saat menjadi saksi di persidangan sebelumnya ataukah keterangan terdakwa yang benar. Dengan tegas terdakwa Ricardo mengatakan bahwa keterangannya yang benar.

"Keterangan saya Pak," ucapnya.

Nah di dalam persidangan tersebut terdakwa Ricardo juga menjawab dengan tegas pertanyaan Rusdi mengenai uang dugaan tangkap lepas sebesar Rp 300 juta.

"Apakah pada saat sidang kode etik propam, uang hasil tangkap lepas tersangka An. Imayanti telah dibagikan? Kasat Kompol Oloan Siahaan diduga menerima Rp 150 juta, Kanit AKP Paul Edison Simamora diduga menerima Rp 40 juta?," tanya Rusdi. 

Mendengar pertanyaan Rusdi tersebut, dengan tegas Ricardo menjawab benar dan mengatakan hal itu diketahuinya saat sidang kode etik di propam Poldasu.

"Dan tidak ada disita oleh personil Paminal Mabes Polri? Namun Personil Paminal Mabes Polri menyita uang dari anggota dan diserahkan kepada pihak Propam Poldasu? Yang mana Aiptu Dekora Siregar (Penyidik Pembantu) menerima Rp 5 juta? Aipda Nani Mulyani (Penyidik Pembantu) menerima Rp 5 juta? Bripka Rudi Saputra (Penyidik Pembantu) menerima Rp 5 juta?. Dari Panit Iptu Toto Hartono sejumlah Rp. 15 juta?, Katim Aiptu Dudi Efni sejumlah Rp 5 juta?, Aipda Matredy Naibaho sejumlah Rp 3 juta?. Bripka Rikardo Siahaan sejumlah Rp 3 juta?, Briptu Marzuki Ritonga sejumlah Rp 3 juta?. Dan perbuatan Tangkap Lepas telah selesai di proses dengan sidang kode etik di propam Poldasu, namun tidak ada dipidanakan?," tanya Rusdi.

Dengan suara jelas Ricardo menjawab satu persatu pertanyaan Rusdi itu.

"Betul Pak," tegas Ricardo sembari katakan kalau uang yang diterimanya sudah diserahkan ke pihak Mabes Polri.(Sagala)

Share:
Komentar

Berita Terkini