Jadi Saksi Dalam Perkara Ricardo, Ini Kata Matredy Dipersidangan

Editor: romi syah author photo


dailysatu.com - Dalam lanjutan sidang terdakwa Bripka Ricardo Siahaan yang digelar di Pengadilan Negeri Medan, beragendakan mendengarkan kesaksian dari Aiptu Dudi Efni, Aipda Matredy Naibaho, Iptu Toto Hartono dan Briptu Marzuki Ritonga. Dalam persidangan tersebut, Ricardo Siahaan, Matredy Naibaho, Dudi Efni, Marzuki Ritonga dan Toto Hartono dihadirkan di ruang Cakra 9 PN Medan. Dipersidangan sebelumnya mereka mengikuti persidangan lewat daring.

Dalam kesaksian Matredy Naibaho menyebutkan bahwa 1 butir pil ekstasi yang ditemukan didalam tas milik terdakwa Ricardo merupakan hasil tangkapan dari target yang berdiam di Jalan S Parman Medan. Hal tersebut di ungkapkan Matredy Naibaho saat ditanya oleh ketua Majelis Hakim Ulina Mabun, Kamis (6/1/2022).

Dalam persidangan tersebut Matredy juga membenarkan barang bukti Narkoba ada ditemukan didalam tas miliknya dan tas terdakwa Ricardo. Namun sambung Matredy barang bukti yang diperolehnya dari Cacan dan Rini tersebut merupakan hasil pancing beli atas surat perintah under coperbuy. Begitu juga dengan barang bukti pada Ricardo merupakan hasil dari penangkapan.

"Tahu buk, dari hasil tangkapan dia di jalan S Parman, Gang Pasir. Setiap hasil penyelidikan kami ditanya sama Katim sama Panit, apa target klen, mana bukti klen kerja?," kata Matredy dihadapan Majelis Hakim, JPU dan H.M Rusdi SH, MH didampingi Ronny Perdana Manullang, SH selaku Penasehat Hukum dari dua terdakwa Matredy Naibaho dan Ricardo Siahaan.

Saat ditanya Majelis Hakim darimana Matredy mengetahui detail tentang barang bukti didalam tas milik Ricardo, dengan tenang Matredy sebutkan kalau seusai melakukan penyelidikan mereka berkumpul dan menceritakan di posko.

"Setiap ada target, kami selalu cerita di posko selesai penyelidikan buk," ungkapnya.

Ketika ditanya ketua Majelis Hakim sampai kapan barang bukti narkoba tersebut dikuasainya, Matredy mengatakan sampai target tersebut ditangkap. 

Selain itu Matredy juga menerangkan dihadapan Majelis Hakim hampir 3 tahun menyelidiki targetnya tersebut.

"Kebutulan itu dekat rumah saya buk, dia memang bandar besar dan sekarang sudah ditangkap dari Sat Narkoba Polda buk, yang sudah saya selidiki hampir setahun. Dan pada saat tanggal 3 itu karena sudah turun surat perintah dari kantor, yang ditandatangani oleh Kasat Narkoba, kita kumpul didaerah lingkungan komplek menteng indah. Terus katim dan saya meminta petunjuk kepada Panit melalui telpon, terus Panit pun mendukung karena banpol sudah menyelidiki lama," terangnya.

Sementara saat Majelis Hakim menanyakan mengenai uang Rp 600 juta, Matredy menuturkan bahwa dari awal mereka tak berniat menggelapkan uang tersebut.

"Kalau uang 600 itu kami gak ada niat buk, pada saat menyerahkan yang Rp 900 juta itu ke kantor baru tergiur buk. Setelah kami dapat informasi bahwa saudara Imayanti sudah dilepaskan dari Polrestabes Medan dengan tebusan Rp 350 juta, yang menerima saat itu Akp Paul Simamora yang diketahui Kasat. Karena sudah merasa aman makanya kami berani membagikan uang Rp 600 juta tersebut. Saya Rp 200 juta, sementara Toto, Dudi, Ricardo dan Marzuki masing-masing Rp 100 juta. Dan kasikan bagian saya sekitar Rp 50 juta kepada informan.

Tak hanya itu, Matredy juga menceritakan saat di Capital Building.

"Waktu itu saat kami lagi di jalan, Kanit Akp Paul Simamora menghubungi Ricardo dan disuruh merapat ke Capital Building room 701. Nah sampai di Capital, Ricardo sendirian masuk ke room 701 jumpai Kanit, sedangkan kami masih menunggu di parkiran. Setelah kurang lebih 1 jam, kami hubungi nomor handphone Ricardo ternyata gak aktif lagi. Karena gak bisa dihubungi kami bingung, naiklah kami ke atas buk. Sampai di room 701 kami melihat saudara Ricardo bersama Kasat, Kanit Akp Paul Simamora dan bersama juper Rudi sudah diamankan personil dari Mabes Polri buk. Terus kami ditanya mengenai tangkap lepas Imayanti dengan tebusan uang sebesar Rp 350 juta. Surat tugas itu sudah kami diserahkan ke Kompol Adi Pradana, namun surat perintah kami tidak diserahkan Kompol Adi Pradana kepada Penyidik di Narkoba buk," tegasnya.

Nah beberapa kali ditanya oleh Majelis Hakim kepada masing - masing saksi, secara bergantian mengakui kalau uang Rp 600 juta tersebut digelapkan. 

"Penggelapan barang bukti yang mulia," ucap saksi saat ditanya secara bergantian.

Share:
Komentar

Berita Terkini