Ini Kata Saksi Dari SPI Saat Dipersidangan Terdakwa Satria Kabag Pergudangan PT. BGR

Editor: dailysatu author photo

dailysatu.com -  Sidang lanjutan terdakwa Satria Sahputra yang digelar di ruang Cakra 3 Pengadilan Negeri Medan, Senin (3/1/2022) berlangsung tegang. Pasalnya dalam persidangan yang beragendakan mendengarkan keterangan saksi dari SPI BGR Kantor Pusat, Priadi Haryo Prabaskoro menyebutkan bahwa kekurangan 1.100,9 ton pupuk di PT. Bhanda Ghara Reksa masih terindikasi kepada terdakwa Satria. Dan saksi juga ucapkan hingga saat ini belum diketahui penyebab dari kekurangan 1.100,9 ton tersebut.

"Terindikasi pak. Iya belum diketahui penyebabnya," tegas saksi menjawab pertanyaan dari Irwan Rusli, SH, MH selaku penasihat hukum terdakwa Satria.

Nah saat ditanya salah satu anggota Majelis Hakim, Husni Tamrin saksi menjawab hal yang serupa.

"Dari Stock Opname kami Satria terindikasi atas kekurangan 1.100,9 ton," jelas saksi.

Dalam persidangan tersebut, Ketua Majelis Hakim memerintahkan Jaksa Penuntut Umum untuk mencari Syahrizal. Menanggapi Majelis Hakim, Jaksa mengatakan bahwa Syahrizal sudah DPO dan hingga saat ini belum diketahui keberadaannya.

Setelah diluar persidangan, Penasihat Hukum terdakwa Satria Sahputra yakni Irwan Rusli, SH, MH dan Ishak S.Pd, SH mengatakan kalau dari fakta persidangan perbuatan kliennya belum terbukti.

"Jadi fakta persidangan kata saksi Priadi Haryo Prabaskoro dari SPI BGR Kantor Pusat bahwa yang adanya kekurangan sebanyak 1.100,9 ton itu yang baru dibuktikan 100 ton. Pihak SPI BGR Kantor Pusat pun belum mampu membongkar bahwa kekurangan 1.100,9 ton disebabkan kenapa. Cuma dilarikan ke terdakwa sebagai dalam laporan SPI menyatakan bahwa itu adalah perbuatan daripada Syahrizal dan Satria. Itu juga bisa dikatakan termasuk pencemaran nama baik juga, karena belum terbukti dilakukan Syahrizal dan Satria. Karena memang beliau tidak melakukan perbuatan penyimpangan 1.100,9 ton itu," kata Irwan Rusli.

Irwan Rusli juga berharap agar Jaksa harus membuktikan penyebab kekurangan 1.100,9 ton tersebut.

"Harapan kita ke Jaksa, itu baru terungkap 100 ton, jadi kita minta sesuai keadilan dan kebenaran, Jaksa harus bisa membuktikan penyebab kekurangan dari 1.100,9 ton itu. Tapi kalau kesusutan itu sudah tanggung-jawab perusahaan, jadi gak bisa dikatakan atas perbuatan karyawan, namanya loss operasional dan itu sudah diakui pihak SPI BGR Kantor Pusat ada loss operasional sebesar 115 ton," jelasnya.(Sagala)
Share:
Komentar

Berita Terkini