Guru Bahasa Inggris Minta dibukanya Formasi PPPK di Karo

Editor: romi syah author photo
Antonius  brahmana (berbaju kuning ) salah satu guru honorer di SD Sada Perarih, di dampinging aktifis peduli pendidikan karo


dailysatu.com-Sebagian besar status guru yang mengajar di  SD dan SMP Negeri berstatus honorer. Namun ketika ada kesempatan mengikuti program pemerintah pusat dalam 

 Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) adalah rekrutmen untuk Aparatur Sipil Negara (ASN) yang ditujukan untuk WNI yang diangkat berdasarkan perjanjian kerja jangka waktu tertentu dalam rangka melaksanakan tugas Pemerintahan, Program ini bagi para guru Honorer dinilai tidak tepat sasaran. Terkhusus bagi guru honorer yang sudah mengajar 3 tahun sampai 30 tahun masa kerja.


Hal ini dicurahkan Antonius Berahmana ( 55 ) salah satu Guru Honorer di SDN 046574 Sadaperarih SDN 044830 Cinta Rakyat dengan ijazah Sarjana Strata Satu Sastra Inggris yang sudah mengabdikan diri mengajar selama lebih 25 tahun mengajar.


” Kami sangat sedih, dengan adanya program P3K untuk guru honorer yang masih belum tepat sasaran dalam melaksanakan peraturan pengangkatan untuk P3K. Kami khususnya guru yang berijazah Bahasa Inggris di Karo tidak dibuka Formasi dengan alasan kuota penuh, artinya tidak dibuka kesempatan untuk mengikuti ujian tersebut,” keluhnya , Kamis ( 27/01/2022)


Padahal menurutnya lagi, dengan masa pengabdian 3 tahun ke atas sudah sewajarnya mereka diangkat menjadi ASN mengingat guru merupakan jantungnya Negara.


” Kami sangat sedih, dengan adanya program P3K untuk guru honorer yang masih belum tepat sasaran dalam melaksanakan peraturan pengangkatan untuk P3K. Kami khususnya guru yang berijazah Bahasa Inggris di Karo tidak dibuka Formasi dengan alasan kuota penuh, artinya tidak dibuka kesempatan untuk mengikuti ujian tersebut,” keluhnya , Kamis ( 27/01/2022)


Padahal menurutnya lagi, dengan masa pengabdian 3 tahun ke atas sudah sewajarnya mereka diangkat menjadi ASN mengingat guru merupakan jantungnya Negara.


“Masih ada teman kami yang mendapat gaji honor hanya Rp. 150.000/ bulannya, itu pun dibayarkan 3 bulan sekali. Itu pun kami bertahan demi pengabdian dan berharap suatu saat ada perhatian pemerintah kepada kami. Dan saat ini ada kesempatan kepada kami yang bertahan dalam pengabdian malah terkesan di abaikan oleh pemerintah khususnya pihak Dinas Pendidikan Tanah Karo,”  katanya.


Revina ( 41 ) guru honorer yang sudah puluhan tahun mengabdi juga mengatakan hal yang sama. “Saya juga guru honorer yang berijazahkan S1 Sastra Inggris, namun di Dapodik saya terdaftar sebagai guru kelas, itu lah sebabnya nomor peserta ujian P3K kami keluar semua, tapi yang kami sangat sayangkan formasi untuk guru bahasa Inggris tidak dibuka di Karo, alasannya jurusan dengan jabatan sebagai guru kelas tidak linier,” ungkapnya.


“Formasi untuk guru bahasa Inggris dibilang penuh. Padahal kurikulum untuk muatan lokal bahasa Inggris di SD untuk kelas 4,5,6 sudah ada, dimana nilai pengabdian dan keadilan untuk mereka selama ini,” ujarnya kecewa.


Menurutnya, banyak sekali guru kelas dengan ijazah Sastra Inggris khususnya, namun tidak dibuka kesempatan. Malah mereka yang di salahkan. “Kenapa tidak kuliah PGSD saja dulu kata pihak Dinas, sementara Dapodik kami sebagai guru kelas mereka yang membuat. Kami mengajar sudah bertahun tahun dengan gelar sarjana pendidikan yang kami punya,” ujarnya.


Untuk itu dia berharap, program P3K ini memang betul – betul mengutamakan para guru honorer yang sudah mengajar bertahun tahun.


” Seharusnya pengabdian kami selama ini yang dinilai dan diapresiasi bukan malah dikritik. Untuk itu tolonglah bagi para pemangku jabatan di bidangnya mengajukan ke BKN pusat,” ucap Revina guru SD N 047178 Desa Kineppen Kecamatan Munthe Kab Karo. (Brama)

Share:
Komentar

Berita Terkini