Nyaris Ricuh, Keluarga Dua Terdakwa Kasus Dugaan Pencurian Ancam Akan Adukan JPU ke Kejagung

Dibaca:
Editor: dailysatu author photo

dailysatu.com - Sidang lanjutan dua terdakwa yakni Rian Syahputra Barus dan Sanjaya Deva Wana Bukit, S.Pd yang digelar di ruang Cakra 8 Pengadilan Negeri Medan berlangsung tegang. Pasalnya saat berlangsungnya persidangan terdengar suara teriakan dari luar ruang sidang yang mengatakan bahwa keterangan dari saksi Edi tidak benar.

Suara dari luar ruang sidang tersebut sempat membuat JPU, Evi Yanti Panggabean menoleh ke arah belakang. 

Dihadapan Majelis Hakim yang diketuai Eli Warti, SH, MH tersebut, Edi menyebutkan bahwa dirinya melihat kedua terdakwa berada di depan rumah Alex. 

"Kata si Alex HP nya hilang. Ku ceritakan juga yang ku lihat malam itu. Rumah saya dan Alex bersebrangan," cetus saksi sembari katakan kalau jarak rumahnya dengan Defa dan Rian agak jauh. 

Saat ditanya tim Penasehat Hukum (PH) kedua terdakwa apakah dari rumah saksi Edi ke rumah Alex ada penghalang?, saksi Edi mengatakan tidak ada.

Ketika ditanya tim PH kedua terdakwa apakah di rumah saksi ada anj*ng?, saksi menjawab ada. 

Nah saat kembali ditanya oleh PH, waktu kejadian tersebut anj*ng itu menggongong atau tidak?, dan apakah di ikat atau dilepas?, dengan pelan saksi menjawab tidak. Saksi juga katakan kalau anj*ngnya di lepas, dan kadang melalak. 

Dan saksi juga menyebutkan kalau dirinya tidak melihat warna baju yang dipakai oleh kedua terdakwa. Begitu juga ketika ditanya apakah saksi sebelumnya pernah mendengar kedua terdakwa melakukan pencurian?, dan saksi menjawab tak pernah.

Setelah mendengar keterangan dari saksi, kedua terdakwa yang ditanya Majelis Hakim tentang keterangan saksi, dengan tegas kedua terdakwa membantah semua keterangan dari saksi Edi.

Seusai mendengar keterangan dari saksi Edi, dilanjut mendengarkan keterangan dari kedua terdakwa. Dari keterangan kedua terdakwa, mereka mendapatkan Handphone tersebut di Jalan. Setelah mendapatkan handphone, terdakwa memberitahu beberapa keluarganya. Dan awalnya terdakwa tidak berniat untuk menjual handphone tersebut. 

Diluar persidangan, keluarga terdakwa berteriak histeris sambil mengatakan kalau mereka akan melaporkan JPU ke Kejagung RI dan menyumpah saksi Edi.

"Kami akan mengadukan Jaksa Evi ke Kejagung. Ingat kau Edy karma. Takut kau sama Tuhan. Saksi Edy itu pamannya," ungkap keluarga terdakwa.

Saat keluarga Terdakwa meneriaki JPU Evi Yanti Panggabean, dengan buru-buru JPU tampak pergi dari pintu belakang PN Medan dan menyuruh di kawal oleh pihak keamanan PN Medan.

Sementara Eva Maya Surbakti, SH setelah diluar gedung PN Medan menegaskan alasan keluarga terdakwa akan menyurati Kejagung, dikarenakan JPU sudah beberapa kali menunda persidangan. 

"Menunda-nunda persidangan, tidak berupaya menerapkan Restorative Justice. Untuk sidang yang beragendakan mendengarkan keterangan saksi Muhammad Edy ada 3 x ditunda, sidang pemeriksaan Alexander dan Nita ada 3 kali tunda. Alasannya saksi diluar kota lah, anak nya kecelakaanlah. Udah gitu tunda sidang pun pernah ditunda di luar persidangan tentunya hal ini kami selalu Penasehat Hukum keberatanlah, tundanya by phone aja," tegas Maya Surbakti.

"Menurut keluarga klien kami, menduga kalau JPU sudah disuap, karena terlalu mengistimewakan Alex dan saksi lainnya," ucap Maya Surbakti sembari katakan kalau keluarga kliennya pernah dibentak dan di usir oleh JPU saat datang ke kantor Jaksa.

"Lalu waktu keluarga terdakwa datang ke kantor jaksa, malah di bentak dan di usir, karena keluarga terdakwa nangis," ungkapnya menirukan ucapan keluarga kliennya.(Sagala)

Share:
Komentar

Berita Terkini