Merasa Kliennya Dizolimi, PH Minta Saksi Wajib Dihadirkan Ke Persidangan

Dibaca:
Editor: dailysatu author photo

dailysatu.com - Merasa kliennya di zolimi, H.M Rusdi SH, MH, selaku penasehat hukum terdakwa Matredy Naibaho dan Rikardo Siahaan didampingi penasehat hukum Toto Hartono yakni M. Jamil Siagian, SH meminta agar dua orang saksi yakni AKP Paul Edison Simamora dan Kompol Oloan Siahaan dihadirkan ke persidangan. 

Sebab menurut H.M Rusdi, kedua saksi mampu untuk merubah status kliennya. Selain itu, kepada wartawan ia juga mengatakan bahwa pihaknya juga kecewa, sebab saksi sudah 3 kali tidak hadir ke persidangan.

"Yang pasti kami sangat kecewa, ini persidangan tidak main-main, persidangan yang menentukan nasib seseorang. Kenapa mesti tidak datang lagi hari ini sudah dipanggil 3 kali. Sakit, oke kita maklum ada surat?. Tapi sudah 3 kali, sakit apa 3 kali, ambeien tidak, covid tidak, bisa di obati. Nah, kami hanya ingin mendengar keterangannya, yang kami rasakan mampu untuk merubah status itu. Yang mana kami merasa klien kami ini juga telah di zolimi dan itu kami ketahui, karena kami tidak boleh menyimpulkan. Kalau dia hadir pasti akan merubah suasana, termasuk saksi saksi terdahulu. Imayanti, kami ingin menarik dia sebagai siapa, karena awalnya dia tersangka disana. Tiba - tiba bisa keluar, ini sudah gak benar, itu yang mau kami korek dari Kanit dan Kasat tersebut," jelasnya.

Parahnya, menurut Rusdi, alasan penundaan sidang tersebut ada yang menyatakan cuti.

"Penundaan alasan masih sakit, celakanya lagi ada yang menyatakan dia cuti. Dari mulai sakit, bukan datang mendahulukan penegakan hukum, apalagi sebagai aparat hukum, eh malah cuti. Ini sudah tidak benar. Klien kami ini sudah jelas sidang pertama saja sudah dituduh mencuri, sementara ketok palu pun belum. Zolimnya adalah barang bukti sabu itukan didapat dari yang diduga bandar narkoba. Nah, kenapa dianggap milik dia, kenapa dianggap tidak memiliki izin, dia memiliki surat undercover buy, penyidikan, penyelidikan, surat perintah semua lengkap. Perintah resmi, yang menandatangani Kasat. Kasat izin siapa?, Kapolres. Kapolres izin siapa?, mungkin Kapolda. Kenapa kita ragu memanggil Kapolres dan Kapolda, gak ada keraguan demi penegakan hukum," terangnya.

Menariknya, Rusdi juga menguraikan pada saat itu AKP Paul Edison Simamora menjabat sebagai Kanit Idik I Sat Narkoba Polrestabes Medan dan Kompol Oloan Siahaan saat itu sebagai Kasat Res Narkoba Polrestabes Medan.

"Paul Simamora waktu itu sebagai Kanit, yang pada saat itu sangat menentukan bahwasanya sebelum - sebelumnya klien kami dibilang tidak menyerahkan barang bukti, baca didakwaan. Jelas Barang bukti tersebut diminta oleh Kanit dan diletakkan di atas meja. Sementara Oloan sebagai Kasat waktu itu pada penggerebekan kedua dipimpin oleh Kasat. Nah ini yang mau kita tanya. Wajib hadir, tidak boleh dilepas, ini berbahaya," tegasnya.

Sebelumnya persidangan sempat dibuka oleh Majelis Hakim yang diketuai Jarihat Simarmata, SH, MH tersebut di ruang Cakra 6 Pengadilan Negeri Medan, Rabu (8/12/2021). Setelah mendengar keberatan dari penasehat hukum, Majelis Hakim menunda persidangan.(Sagala)

Share:
Komentar

Berita Terkini