Ketua PAC PDI Perjuangan Medan Maimun Minta Hakim Bebaskan Ayu Dan Tekleng

Dibaca:
Editor: Romi Syah author photo


dailysatu.com-Puluhan kader PDI Perjuangan terus mengawal ketat sidang lanjutan dua kader PDI Perjuangan Yuddy Susanto alias Ayu dan Rudi Yanto alias Tekleng, yang didakwa perkara pengancaman dan pengrusakan. Tak hanya dari kader PDI Perjuangan, puluhan aparat kepolisian dan Waltah dari Kejari Medan juga tampak mengawal di depan ruang sidang Cakra 7 Pengadilan Negeri (PN) Medan, Selasa (14/11/2021).


Sidang yang dipimpin Majelis Hakim, Jarihat Simarmata, SH, MH tersebut beragendakan pembacaan replik dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ramboo Loly Sinurat.


Replik yang dibacakan JPU Ramboo Loly Sinurat itu menyebutkan bahwa penuntut umum tetap pada tuntutannya yang sebelumnya meminta supaya kedua terdakwa dihukum masing-masing 1,5 tahun penjara.


"Memohon kepada majelis hakim untuk menolak semua pledoi para terdakwa, kami selaku penuntut umum tetap pada tuntutan," ucap JPU Ramboo. 


Diluar sidang Tim Penasehat Hukum (PH) Terdakwa Ganda Tambunan, Sarmatua Tampubolon dan Sebastian Nainggolan dari Badan Bantuan Hukum Advokasi Rakyat (BBHAR) DPC PDI Perjuangan mengatakan, kedua kliennya tidak melakukan tindak pidana sebagaimana didakwaan Jaksa.


"Bagaimana si Ayu disebut melakukan pengancaman sementara dia tidak ada di TKP. Untuk itu kami akan membela mereka sampai terjadinya kepastian hukum yang adil dan benar," ungkap Sarmatua dan Ganda Tambunan.


Sementara Ketua PAC PDI Perjuangan, Kecamatan Medan Maimun, Teksin yang turut hadir ke persidangan menilai kedua kadernya harus bebas murni. 


"Pengadilan Negeri Medan harus memutus bebas murni, karena terdakwa tidak ada di TKP," jelas Teksin didampingi Lisa Barus selaku Ketua PAC PDI Perjuangan Kecamatan Medan Timur.


Dikesempatan itu, mantan Komandan Satgas PDIP Sumatera Utara, Guntur Parulian Turnip, yang juga pernah menjadi saksi dalam perkara ini menegaskan, bahwa PDI Perjuangan akan terus mengawal perkara ini hingga kedua rekannya mendapat keadilan.


Dijelaskannya bahwa dari 10 saksi yang di BAP di kepolisian tidak ada satu pun yang menjelaskan bahwa terdakwa Ayu ada di lokasi melakukan pengancaman.


"Tiga dari 10 saksi adalah ASN dan tak ada yang menyebutkan kalau Ayu dan Tekleng melakukan pembongkaran bangunan ilegal tersebut. Dan tak ada yang mengatakan Ayu ada di sana. Mereka menjelaskan kalau Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan (TRTB) yang melakukan pembongkaran, begitu dengan Camat dan lurah," terangnya.


Ia mengaku tidak habis pikir mengapa kedua kadernya dituntut 1,5 tahun penjara dan dikenakan pasal pengancaman dan pengrusakan.


"Ada apa ini, ada keganjilan dalam permasalahan ini dari 2013 sampai 2021, lalu bulan 5 tanggal 21 P21 perkara ini. Selama 2013-2020 perkara yang digantung di kepolisian kenapa tidak di SP3 kan kepolisian ini, Kenapa kepolisian menerima laporan Parto yang tidak dilengkapi kuasa pemilik bangunan. Ini ada pemaksaan agar anggota kami dipenjara," ucapnya.


Turnip mengatakan pihaknya akan melaporkan sejumlah aparat penegak hukum terkait perkara ini.


"Tidak sedetikpun kami biarkan anggota kami diperdaya. Kami disini hadir memberi semangat kepada kedua kader PDIP Perjuangan yang dizholimi. Ini menyangkut masalah marwah partai PDI Perjuangan, Jaksanya akan kita laporkan," ungkapnya sembari mengatakan juga akan melaporkan Misdi.


Sebelumnya dalam dakwaan JPU dijelaskan bahwa perkara ini bermula pada Pada Selasa 18 Juni 2013 sekira pukul 08.30 WIB saksi Partoh Irwan Alias A Kok pergi ke Proyek pembangunan rumah toko (Ruko) yang berada di Jalan Pinang Baris II Pasar V Kelurahan Lalang Kecamatan Medan Sunggal.


Sesampainya di bangunan tersebut, ia melihat saksi Misdi saksi Agus Jumadi, saksi Muhammad Hendra, Suwadi  dan beberapa tukang sedang bekerja di lokasi bangunan tersebut. 


Kemudian Misdi membutuhkan kayu lip sebanyak 10 batang ukuran 2x3x16 yang digunakan sebagai lip cor lantai pekerjaan. 


Keesokan harinya  Partoh dan Misdi pergi ke panglong dan  kembali ke Bangunan tersebut, namun sesampainya di Bangunan tersebut  Partoh melihat Pak Lurah Lalang beserta Staff berdiri di dekat proyek dengan mengatakan bahwa Bosnya makan tanah dasar, sehingga ingin dicek terlebih dahulu. 


Tiba-tiba datang Terdakwa YUDY dan RUDI dan beberapa orang dengan menggunakan mobil dan sepeda motor dan langsung berhenti tepat di depan Bangunan tersebut. 


Kemudian Partoh melihat Terdakwa Yudy menunjuk-nujuknya sambil mengatakan 'itu dia bunuh Akok. Kemudian Terdakwa Yudy melempar, lalu Rudi bersama dengan beberapa orang, ikut memukul pagar seng dengan menggunakan kayu hingga pagar tersebut roboh. 


Karena situasi semakin ricuh Partoh dan tukang yang sedang bekerja di Bangunan tersebut menjadi ketakutan dan pergi lari menyelamatkan diri. 


Bahwa akibat perbuatan terdakwa Yudy mengakibatkan Partoh mengalami kerugian kurang lebih sebesar Rp 25 juta.(ds/sagala)

Share:
Komentar

Berita Terkini