Dihadapan Majelis Hakim, Saksi Ini Sebut Dirinya Tak Melihat Terdakwa Memukul Kaca Mobil

Dibaca:
Editor: Romi Syah author photo


dailysatu.com-Sidang lanjutan terdakwa Mhd. Reza Sitio yang digelar di ruang Cakra 8 Pengadilan Negeri Medan, Selasa (14/12/2021) beragendakan mendengarkan keterangan dari saksi Bangun. Dihadapan Majelis Hakim yang diketuai Immanuel Tarigan, SH, MH, saksi Bangun selaku ayah tiri terdakwa Mhd. Reza Sitio menerangkan bahwa saat kejadian tersebut dirinya sedang mau tidur.


"Waktu itu saya mau tidur siang, Muhammad Reza marah-marah karena direkam. Dia meminta video itu dihapus, yang merekam itu perempuan. Kejadiannya sekitar jam setengah 3," ucap saksi.


Selain itu saksi juga menirukan ucapan terdakwa dihadapan Majelis Hakim.


"Berikan rekaman video itu," kata saksi menirukan sembari katakan waktu kejadian banyak tetangga yang datang, mendukung terdakwa Reza.


Saksi juga menegaskan bahwa dirinya tidak ada melihat terdakwa meludah petugas dari PLN. 


"Memang nunggak, setahu saya 2 bulan. Saya gak melihat Reza meludah kepada orang yang datang. Setelah orang itu pulang listriknya padam. Malamnya Reza dijemput polisi. 


Tak hanya itu, saksi juga menuturkan bahwa pihaknya sudah 3 kali datang ke rumah Ayu Miranda.


"Sudah 3 kali ke rumah Buk Ayu Miranda. Tapi mereka bilang, 'kami maafkan tapi hukum tetap berjalan'," jelasnya.


Nah saat ditanya oleh JPU, Chandra apakah saksi ada melihat terdakwa memukul kaca mobil. Dengan jelas saksi menjawab tidak ada. 


"Gak ada saya lihat," ujar saksi.


Mendengar jawaban saksi, JPU membacakan keterangan saksi dipoin 7, yang menyebutkan saksi ada melihat terdakwa memukul kaca mobil mereka sebanyak 1 kali. 


Ketua Majelis Hakim pun langsung mempertegas tentang kebenaran jawaban saksi. Dengan tenang saksi menjawab disini.


"Yang disini Mulia," jelas saksi.


Setelah mendengar keterangan dari saksi, Majelis Hakim menunda persidangan.


Diluar persidangan, Ali Akbar Velayafi Siregar, SH selaku penasehat hukum terdakwa kembali menegaskan bahwa di persidangan saksi Bangun tidak ada melihat kejadian.


Mengutip dakwaan JPU, bahwa pada hari Kamis tanggal 29 Juli 2021 sekira pukul 15.00 wib, saksi korban Ayu Miranda yang merupakan petugas Perusahaan Listrik Negara (PLN) bersama dengan saksi Andina Viryandini yang juga merupakan petugas PLN dan team mendatangi kafe milik terdakwa Mhd. Reza Sitio yang terletak di Jalan Halat No.36 Kelurahan Pasar Merah Barat Kecamatan Medan Kota untuk melakukan pengecekan meteran listrik. 


Dimana pembayaran listrik kafe milik terdakwa sudah tertunggak satu bulan ditambah dengan bulan pembayaran bulan berjalan. Selanjutnya sesampainya di kafe milik terdakwa, lalu saksi korban bersama dengan saksi Andina Viryandini bersama petugas PLN meminta untuk melakukan pemeriksaan meteran listrik kafe terdakwa yang berada didalam garasi.


Kemudian saksi korban mengatakan kepada saksi Lisna Marlina Harahap bahwa pembayaran listrik kafe terdakwa sudah menunggak namun saksi Lisna Marlina Harahap mengatakan “gimana mau bayar karena masalah PPKM ini”. Tak berapa lama terdakwa datang lalu saksi korban dan saksi Andina Viryandini menjelaskan kepada terdakwa bahwa pembayaran listrik kafe milik terdakwa sudah tertunggak dan menurut aturan PLN kalau listrik tidak dibayar terpaksa harus diputus. 


Sehingga saksi korban dan saksi Andina Viryandini serta petugas PLN lainnya melakukan tindakan penyegelan terhadap meteran listrik kafe terdakwa, namun terdakwa malah marah-marah dan tidak terima atas tindakan yang akan dilakukan oleh saksi korban dan petugas PLN lainnya. Kemudian terdakwa mengatakan ‘yaudah gemboklah paling nanti aku hancurkan itu” lalu mengusir saksi korban dan saksi Andina Viryandini serta petugas PLN yang bersama dengan saksi korban, namun saksi korban dan saksi Andina Viryandini mengatakan “kami keluar tapi kami gembok dulu meteran ini” lalu terdakwa mengatakan “aku gak mau dua perempuan ini ada diproperti saya”.


Kemudian terdakwa mengijinkan saksi Joli Edwardo menggembok meteran listrik kafe terdakwa, lalu sambil berteriak-teriak dan mengeluarkan kata-kata makian terdakwa mengusir saksi korban dan saksi Andina Viryandini dengan mengatakan “anj*ng..kont*l kau”, Kemudian terdakwa melempar batu kerikil kearah saksi korban dan saksi Andina Viryandini.


Lalu saksi korban yang melihat perbuatan terdakwa kemudian mengambil video sambil masuk kedalam mobil, namun terdakwa yang melihat saksi korban memegang handphone dan mengarahkannya kearah terdakwa lalu tidak terima, kemudian menendang pintu mobil dan membuka pintu mobil yang ditumpangi saksi korban.


Kemudian terdakwa berusaha mengambil handphone milik saksi korban namun tak berhasil, sehingga terdakwa yang terlihat emosi kemudian membuka maskernya dan meludahi saksi korban yang mengenai wajah saksi korban.


Lalu terdakwa menutup pintu mobil dengan membanting keras pintu mobil yang membuat saksi korban terkejut dan ketakutan atas perbuatan terdakwa tersebut. Selanjutnya saksi korban yang tidak menerima perbuatan terdakwa yang telah meludahi dan memaki saksi korban saksi korban lalu melaporkan terdakwa kepetugas kepolisian Polsek Medan Area guna pengusutan lebih lanjut.


Bahwa akibat perbuatan terdakwa membuat saksi korban merasa malu kepada masyarakat atas perkataan hinaan dan makian terdakwa terhadap saksi korban juga membuat saksi korban merasa ketakutan serta merasa kesehatan saksi korban terancam karena saksi korban takut terpapar virus dari ludah terdakwa yang dilakukan terdakwa pada situasi pandemik saat ini akibat banyaknya virus corona yang menyerang kehidupan masyarakat saat ini.


Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 335 ayat (1) ke-1 KUHPidana. Atau kedua Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 315 KUHPidana.(sagala)

Share:
Komentar

Berita Terkini