Dr. Dimpos Manalu: Tantangan Pers Saat Ini, Membangun dan Mengembalikan Kepercayaan Publik

Dibaca:
Editor: dailysatu author photo

dailysatu.com - Pers/Media berpotensi besar dan berperan aktif dalam pembangunan kualitas demokrasi, tetapi bisa juga menjadi benalu dalam demokrasi itu sendiri.

"Anda bisa menjadi kontra produktif bagi demokrasi," kata Dr. Dimpos Manalu, S.Sos, MSi, kepada puluhan jurnalistik, saat sebagai pembicara pada pengukuhan Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Tapanuli Utara, periode 2021-2026 yang mendapuk Jan Piter Simorangkir menjadi Ketua, dan Rinto Aritonang menjadi Sekretaris, beserta 33 pengurus lainya, Rabu (10/11/2021), di Gedung Sopo Partungkoan, Tarutung.

Dimpos Manalu, Dosen Fisipol dan Magister Administrasi Publik di Universitas HKBP Nommensen, Medan, dalam paparannya bertajuk, "Media, Politik Bermartabat dan Demokrasi ", mengemukakan, polemik dalam demokrasi itu sebenarnya masalah persepsi. 

Menurutnya, yang membangun persepsi itu adalah pers atau jurnalis yang bekerja di industri perusahaan media. Maka, peran media di demokrasi adalah di persepsi.

"Kalau anda membangun sentimen atau persepsi positif, maka anda akan menjadi bahagian terpenting dari demokrasi untuk ikut mencerdaskan. Tetapi, jika anda menjadi bagian sentimen negatif dengan hadirnya  manipulasi dan kebohongan dalam menuliskan sebuah persepsi, maka anda adalah benalu," tandas pria yang menyelesaikan studi doktoralnya di Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta.

Dalam menuangkan produk jurnalistik, sebut Dimpos, kalau tidak ada lagi wartawan yang secara sistematis menulis dan melaporkan dengan didukung data dan fakta, tidak akan ada bedanya dengan yang lain.

Pers menjadi benalu, bisa ditandai dengan munculnya gejala anti demokrasi antara lain, kekacauan informasi, meningkatnya informasi bohong (fake news, hoaxes), editing foto dan data statistik menyesatkan.

Kemudian, publik sulit mendapatkan informasi yang kredibel dan dapat diandalkan sebagai pedoman yang mengakibatkan timbulnya keresahan, kecemasan, kekuatiran, dan kekacauan.

Tantangan demokrasi terutama di era sekarang kata Dimpos, bagaimana mengembalikan fungsi media/pers, jurnalisme berkualitas untuk membangun dan mengembalikan kepercayaann publik, literasi berita, literasi media, akurasi, independen, keadilan/imparsialitas, kerahasiaan, kemanusiaan, akuntabilitas, transparansi, serta advokasi dan emansipasi digital.

Sebelumnya, Ketua SMSI Taput, Jan Piter Simorangkir, usai dikukuhkan menyampaikan, Pers seringkali keluar dari nilai etis dan jalur tugas yang terkandung dalam UU Pers dan Kode Etik Jurnalistik dan berpotensi membuat keresahan atau rasa tidak nyaman ditengah masyarakat.

Kata Jan Piter, Pers dalam melakukan tugas jurnalistiknya serta payung kebebasan berkarya yang melindunginya juga tidak luput dari kesalahan dan kebablasan. 

"Tentu, kita tidak bisa menggunakan atas nama kebebasan, akhirnya mencaci maki dan memfitnah orang, atas nama kebebasan menyebarkan kebohongan dan atas nama kebebasan menghakimi kepintaran dan kecerdasan orang," ujarnya.

Perilaku dan sikap Pers seperti itu, lanjutnya, bisa saja muncul terutama pada perhelatan pesta demokrasi baik  Pemilihan Umum (Pemilu) Presiden, Legislatif dan Kepala Daerah, yang akan dilakukan pada dua tahun mendatang.

"Kebebasan Pers bukan seperti itu,  tetapi dilakukan secara beretika dan  bertanggungjawab, sesuai dengan slogan SMSI ; Stop Hate, Stop Crime, Stop Hoaks," tutupnya. (ds/Bisnur Sitompul)

Share:
Komentar

Berita Terkini