Hakim Tegur Wartawan di Sidang Perdana Tiga Terdakwa Penjual Vaksin Sinovac Secara Ilegal

Dibaca:
Editor: dailysatu author photo

dailysatu.com - Sidang tiga terdakwa kasus penjualan vaksin Sinovac secara ilegal yang melibatkan dua orang oknum dokter berstatus aparatur sipil negara dan seorang pihak swasta jalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Medan, Rabu (8/9/2021) berlangsung tegang.

Pasalnya saat Jaksa Penuntut Umum (JPU) Robertson Pakpahan yang sedang membaca dakwaan spontan terhenti, ketua Majelis Hakim, Saut Maruli Tua Pasaribu, SH, MH menegur beberapa orang awak media yang sedang mengikuti proses sidang.

"Kamu siapa?, eh kamu siapa?, maunya minta ijinlah. Jangan berdiri diri, kamu pakai maskernya," tegur Ketua Majelis Hakim kepada wartawan.

Setelah wartawan duduk rapi dan menggunakan masker, JPU dari Kejatisu itu kembali melanjutkan membaca dakwaan.

Dalam dakwaan JPU Robertson Pakpahan menyebutkan terdakwa dr. Kristinus Saragi yang merupakan dokter berstatus ASN di Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara, dr.Indra Wirawan berstatus dokter ASN di Rutan Tanjung Gusta didakwa melanggar Pasal 12 huruf a atau kedua Pasal Pasal 12 huruf b, kemudian  pasal ketiga Pasal 5 ayat (2) dan Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 64 ayat (1) KUHPidana.

Sedangkan terdakwa Selviwaty dari pihak swasta, selaku koordinator bertugas mengkoordinir masyarakat yang akan divaksin didakwa melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a dan atau b dan atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Para terdakwa memperoleh ratusan juta rupiah dari penjualan vaksin tersebut.

Setelah selesai persidangan, JPU Robertson Pakpahan memaparkan kasus ini bermula saat terdakwa Selviwaty menghubungi Kristinus Sagala meminta agar rekan-rekannya divaksin.

"Awalnya terdakwa Kristinus menolak, kemudian karena disepakati ada pemberia uang sebesar Rp250 ribu per sekali vaksin untuk tiap orangnya, maka dokter Kristinus bersedia melakukan suntik vaksinasi jenis Sinovac," kata Robertson, JPU dari Kejati Sumut itu.

Kemudian lantaran stok vaksin yang dimiliki terdakwa Kristinus di Dinas Kesehatan tidak cukup, maka lanjut Robertson, dia menyarankan agar terdakwa Selviwaty menghubungi terdakwa dr Indra Wirawan yang bertugas sebagai dokter di Rutan Tanjung Gusta.

"Dan dari sana disepakati tetap 250 ribu sekali vaksin. Dari 250 ribu rupiah itu 220 ribu untuk dokter Indra, sisanya untuk terdakwa Selviwaty," ucap Robertson.

"Vaksin itu diperoleh para terdakwa dari sisa Rutan dan ada juga didapatkan dari Dinas (Kesehatan) provinsi," ungkapnya lagi.

Dari hasil penjualan vaksin itu, ketiga terdakwa kata Robertson memperoleh keuntungan yang bervariasi. Untuk dokter Kristinus Sagala memperoleh Rp142.750.000 dari 570 orang. Sedangkan yang diterima Selviwaty sebesar Rp11 juta.

"Untuk dokter Indra memperoleh Rp134.130.000 rupiah dari 1.050 orang. Yang diterima Selviwaty sebesar Rp 25 juta," jelas Robertson.

Atas dakwaan yang dijerat kepada ketiga terdakwa, Robertson mengatakan ancaman maksimal 15 tahun penjara.(Sagala)

Share:
Komentar

Berita Terkini