Gandhi: Pemprovsu Harus Stabilkan Harga Sawit, Jangan Hanya Fokus Covid

Dibaca:
Editor: dailysatu author photo

dailysatu.com - Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) didesak agar segera menstabilkan harga komoditi sawit yang saat ini turun sekitar 20 persen, khususnya di Kabupaten Labuhan Batu Selatan (Labusel). 

"Akibat turunnya harga sawit ini, para petani di Labusel mengeluh karena pendapatan menurun," kata Anggota Komiei B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), Muhammad Gandhi Faisal Siregar di ruang kerjanya gedung dewan Jalan Imam Bonjol Medan, Selasa (3/8/2021). 

Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini merespon keluhan para petani dari hasil resesnya di sejumlah daerah di Labuhan Batu Selatan, belum lama ini. 

Menurut Gandhi, petani sawit di Labusel mengeluhkan harga sawit yang turun dari Rp2.000 per kilogramnya menjadi Rp1.800, padahal di Riau, yang jaraknya tak jauh dari lokasi kebun sawit mereka, harga sawit tetap bertahan di kisaran Rp2.000.

"Ini kan kita heran, harga di Riau bisa berbeda, kenapa di Labusel yang masuk dalam wilayah tetangganya, kok malah turun," ucap Gandhi yang berasal dari daerah pemilihan (Dapil) Sumut VI (Labuhan Batu, Labura dan Labusel). 

Lebih lanjut Gandhi mengaku heran dengan harga kelapa sawit turun, sementara pemerintah melalui dinas terkait malah menaikkan harga pupuk hingga mencapai Rp600.000 per kilo, dari semula Rp400.000.

Maka dari itu Gandhi mengingatkan,  jika dibiarkan, kondisi ini akan semakin menyulitkan petani bertahan, dan dapat mengurangi pendapatan asli daerah.

Menyinggung fokus pemerintah terhadap Covid-19, Gandhi berpendapat, sektor pertanian hingga kini menjadi sektor yang bertahan di tengah pandemi dibanding usaha lain. 

"Sehingga kita berharap pemerintah dapat menyesuaikan harga sawit dan pupuk pada tingkatan yang layak,"ujarnya.

Gandhi juga menyarankan agar Gubsu tidak fokus melulu pada Covid-19, karena di Labusel yang sebagian besar warganya bermatapencaharian sebagai petani mampu menjaga diri mereka sendiri. 

"Kemudian di Labusel saja yang terdiri atas lima kecamatan termasuk daerah yang banyak kebun sawit. Di satu kecamatan saja ada 5 kebun sawit, dan kalau di seluruh kecamatan termasuk Labuhan Batu, jumlahnya mungkin ratusan, sehingga ini harus jadi perhatian Pemprovsu," cetusnya. 

Artinya, lanjutnya, Pemprovsu melalui Dinas Pertanian dan Perkebunan diminta bersinergis mencermati dan menyahuti kenaikan harga kelapa sawit di Labusel.

"Artinya, jangan harga sawit dinaikkan, di lain pihak harga pupuk dinaikkan, itu sudah tidak betul lagi," pungkasnya. (sus)

Share:
Komentar

Berita Terkini