Wow, Permintaan Pisang Cavendish di Karo 100 Ton Tiap Hari

Dibaca:
Editor: Romi Syah author photo


 dailysatu.com-Tanaman pisang Cavendish di Desa Siosar, Kab. Karo Sumatera Utara (Sumut) diyakini naik kelas, mengingat permintaan pasar terutama dari beberapa kota besar termasuk Jakarta dan Surabaya melonjak. 


Selain, program kemitraan dengan offtaker hortikultura dan eksportir nanas, pisang juga diyakini prospektif. 


“Pesanan 100 ton/hari untuk Cavendish. Ini kesempatan, dan kami berpikir bagaimana caranya bisa memenuhi quantity yang sebelumnya tidak terbayangkan. Untuk mencapai panen 100 ton/hari, dengan menggarap lahan tiga hektar per hari,” kata Ketua Komunitas Petani di Karo, Yendi Sembiring kepada dailysatu.com, Senin 26 Juli 2021.


Lanjutnya, land bank, tenaga kerja pertanian/perkebunan praktis tidak ada masalah. Skill petani Karo juga diyakini di atas rata-rata petani dari daerah lain seperti Lampung, Jawa. Karena sejak zaman pemerintahan colonial Belanda, Karo dan Simalungun merupakan salah satu daerah yang diproyeksikan sebagai daerah pertanian/perkebunan.


 “Sehingga skill bertaninya luar biasa. Kami, komunitas petani sebetulnya tanam talas juga. Tapi kami mau push pisang Cavendish dulu karena permintaan pasar tinggi. 90 persen masyarakat di Karo bertani. Wortel, salak pondoh, buah naga, jeruk dan lain sebagainya diproduksi disini,” kata Direktur PT Pandawa Agro Sumatera.


Di kesempatan itu, Yendi Sembiring menjelaskan kilas balik mengenai kegiatan pertanian/perkebunan Karo, yakni ketika saat ekspansi pemerintah kolonial Belanda berlangsung. Ekspansi untuk melindungi kepentingan ekonomi berupa pengamanan dan pembukaan daerah pertanian/perkebunan. Awal abad ke-20, Belanda dengan politik colonial pax nederlandica meluaskan pengaruhnya luar pulau Jawa. Salah satu sasaran (perluasan pengaruh) adalah Sumatera Timur khususnya Simalungun dan Tanah Karo. 


“Di Karo, ada tugu jagung, tugu jeruk, tugu kol. Surganya hortikultura di Karo, dan gudangnya untuk pertanian. Sedari kecil kami sudah diajarkan bertani. Perbandingan dengan kabupaten Bener Meriah (Aceh), kondisi geografisnya sama dengan Aceh, (yakni) 800 – 1200 MDPL (meter di atas permukaan laut). Sekarang ini, sudah ada pelebaran jalan. Sehingga akses dari Medan juga lebih terbuka,” kata Yendi Sembiring.


Di tempat berbeda, PT Great Giant Pineapple (GGP) sebagai offtaker akan mempelajari kondisi lahan pertanian, pekerja di Karo sebelum menentukan kemitraan dengan konsep creating share value (CSV). GGO sedang desk study titik koordinat lahan pertanian PT Pandawa Agro di desa Siosar, Karo. GGP sebagai offtaker sudah mengekspor nanas, pisang ke Tiongkok, Amerika, Eropa. (Brama ginting)

Share:
Komentar

Berita Terkini