Kalangan Dewan Sesalkan RS Haji Perbolehkan Pasien Penyakit Kulit Pulang

Dibaca:
Editor: dailysatu author photo

dailysatu.com - Kalangan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) menyesalkan kebijakan manajemen Rumah Sakit Haji yang mengizinkan pulang kepada pasien penyakit kulit yang tergolong langka, Haikat dan Zakira saat dalam masa perawatan. 

Harusnya, kata Ketua Fraksi Partai NasDem dr Tuahman Franciscus Purba, Anggota Komisi E DPRD Sumut dr Poaradda Nababan dan dr Mustafa Kamil Adam, perlu ada langkah lanjutan agar pasien tetap dalam penanganan rumah sakit.

Ketiga anggota dewan yang berlatarbelakang dokter spesialis merespon prihal ini atas Haikal dan Zakira yang Pulang Atas Permintaan Sendiri (PAPS) dari perawatan Rumah Sakit Umum (RSU) Haji Medan pada, Kamis (8/7/2021) sekitar pukul 14.00 wib setelah dirawat selama beberapa hari disana.

Tuahman menjelaskan bahwa rumah sakit punya tanggungjawab, misalnya dengan cara melakukan perujukan ke rumah sakit lain yang memiliki keahlian khusus, untuk ditangani lebih jauh.

"Rumah sakit juga punya kewajiban dan tanggungjawab untuk menjelaskan kepada pasien tentang langkah pencegahan, perawatan dan penanganan pasien tersebut," ucap Tuahman diruang kerjanya gedung dewan Jalan Imam Bonjol Medan, Rabu (14/7/2021), seraya menambahkan ada istilah medis dikenal dengan Hospital by Loss, yang artinya kewenangan ada di dua belah pihak, yakni rumah sakit dan pasien. 

"Bila pasien atas keinginan sendiri minta pulang dengan alasan tertentu, rumah sakit tidak dapat menolaknya, namun untuk memenuhi tugas dan tanggungjawabnya, rumah sakit berkewajiban menjelaskan seperti apa penanganan jika dirawat rumah, pencegahannya dan penanggulangannya," cetusnya.

Menyingung penyakit yang diderita Haikat dan Zakira, Tuahman membenarkan Epidermolisis Bulosa atau ada gangguan pada keratin dan kolagen yang menyebabkan peregangan kulit adalah termasuk penyakit langka.

"Ya pendapat saya itu langka, jadi dengan dasar itu saya kira rumah sakit perlu lah memberikan advis atau rekomendasi yang memungkinkan keluarga pasien menerima masukan tersebut," tegasnya. 

Hal senada juga dikatakan Dr Poaradda yang mengatakan penyakit yang diderita Haikat dan Zakira bukanlah tergolong langka, seperti penyakit Sindrom Stevens-Johnson, yang dapat sembuh dengan sendirinya.

Namun dia menyebutkan, sebagai rumah sakit, para dokter yang merawat kedua pasien hendaknya lebih peka untuk bertanggungjawab agar pasien sembuh.

"Memang yang saya lihat itu kan berdasarkan PAPS, atau pulang atas keinginan sendiri, juga ada berobat jalan atau ketidakmampuan rumah sakit untuk menangani pasien. Yang saya lihat pasien itu PAPS, kita tidak bisa cegah. Itu berarti kewenangan ada di tangan keluarga pasien," terangnya. 

Namun, lanjut Politisi PDI Perjuangan ini, rumah sakit juga punya kewajiban moral bagaimana penanggulangannya jika pasien memilih PAPS. 

Hal yang sama disampaikan Mustafa Kamil Adam, yang menyebut rumah sakit harus Strongly Recommended (rekomendasi untuk mempengaruhi,red) agar pasien ditangani maksimal.

 "Jangan kalau pulang terus dibiarkan," ucapnya.

Mustafa juga menyebutkan, pihaknya akan menelusuri lebih jauh dengan menghubungi RSU Haji terkait langkah PAPS pasien. 

"Seperti apa nantinya, saya sampaikan," pungkasnya. (sus)

Share:
Komentar

Berita Terkini