Pembangunan Peningkatan Jalan Tarutung-Balige Ancam Pemukiman Warga

Dibaca:
Editor: dailysatu author photo

dailysatu.com - Pembangunan Peningkatan Jalan dari Balai Jalan Nasional Sumut II, terletak di Jalan Tarutung-Balige, Kecamatan Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara (Taput), mendapat sorotan dari masyarakat.

Berdasarkan Peraturan Menteri PU No.11 Tahun 2011 tentang Pedoman Penyelenggara Jalan Khusus dan Undang-Undang RI Nomor 13 Tahun 1980 tentang Jalan, kondisi dan kenyataan pembangunan peningkatan Jalan tersebut, perlu menjadi perhatian oleh aparat berwenang.

Seperti disampaikan seorang warga, YC Hutauruk, Jumat (18/06/2021), bangunan jalan tersebut menimbulkan kekhawatiran pada masyarakat nantinya karena akan mengakibatkan banjir dan air menggenangi pemukiman warga. 

Dia menyesalkan pihak kontraktor yang tidak pernah melibatkan warga sekitar dalam bentuk sosialisasi. Bahkan ia akan mengajukan gugatan jika terjadi banjir ke pemukiman akibat bangunan itu. 

"Saya sebagai warga setempat mendukung pembangunan, tetapi bagaimana jika mengakibatkan keresahan dan banjir. Kita juga bangga adanya perhatian pemerintah yang memberi perhatian serius bagi masyarakat. Tetapi, pembangunan ini harus ada analisis lingkungan, harus jelas ada AMDAL, harus ada pendekatan terhadap masyarakat. Apa diperlukan yang pasti masyarakat akan ditanya dari pihak tertentu," jelasnya.

Lanjutnya, proyek peningkatan jalan Tarutung-Balige ini, dikhawatirkan menimbulkan masalah dan bukan mengatasi masalah. Menurutnya, karena disekitar badan jalan belum ada pembangunan drainase, sehingga genangan air tidak teratasi hingga meluap ke pemukiman warga. 

"Saya pernah diundang rapat tahun 2017-2018. Sudah ada pengusulan di Kantor Camat Tarutung dan Kantor Camat Sipoholon. Permintaan masyarakat adalah pembangunan drainase, ternyata pembangunan jalan. Lihat sendiri warga di sini melakukan aktifitasnya, sebagian besar warga disi ASN. Mereka juga mau berbagi tanahnya untuk membuat bangunan parit untuk kepentingan umum," ujar Hutauruk.

Terpisah, seorang warga tidak mau disebut namanya, mengungkapkan kekecewaannya melihat kondisi proyek jalan ini. Disamping menimbulkan debu yang mengganggu warga, efek bangunan juga menimbulkan banjir apabila turun hujan.

Dikatakannya, kemarin saat hujan ruas jalan banjir, seorang pengendara motor saat melintas terperosok ke parit karena kondisi jalan digenangi air. Rumah warga sekitar juga banjir akibat luapan air dari badan jalan.

Partanda S, dari LSM LP Tipikor Nusantara Sumut, mengatakan proyek peningkatan permukaan jalan Tarutung-Balige, persis di Depan kantor Kemenag Taput, bukan mengatasi banjir yang sebenarnya. Karena perbaikan jalan tersebut hanya mengatasi banjir di badan jalan dan bukan untuk kepentingan warga sekitar, melainkan menimbulkan banjir di pemukiman warga.

Dijelaskannya, menaikkan permukaan jalan tersebut dengan kondisi dan meterial diragukan kwalitasnya. Karena material dipakai adalah pasir gunung yang tidak ada agregatnya. Agregat itu adalah Campuran dari batu, tanah dan pasir. Sifatnya tanah gunung akan mengalami penyusutan, itu dipaksa dipadatkan. Sifatnya agregat itu campuran batu yang fungsinya menahan dari penyusutan. 

"Hal ini memungkinkan permukaan jalan yang dinaikkan akan surut saat diturunkan di permukaan jalan yang dibangun sekarang. Itulah masalah terjadi setelah pelapisan penaikan permukaan jalan selesai. Penaikan permukaan jalan bukan mengatasi masalah sebenarnya. Debit air hujan kita belum tahu, makanya diperbaiki dulu drainasenya. Pemerintah daerah juga harus memberikan perhatian dan tata ruang harus difungsikan," kata Partanda.

Sementara, Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional Sumut II, SR Simanjuntak, saat dihubungi melalui WA dengan No HP 0811XXXXXXX, hingga berita ini diturunkan belum memberikan jawaban. (ds/Bisnur Sitompul)

Share:
Komentar

Berita Terkini