Pemerintah Pusat Diminta Tegas Atasi Banjir Bandang di Parapat.... Disebut Sebut Akibat Pembalakkan Hutan Sitahoan

Dibaca:
Editor: dailysatu author photo

dailysatu.com - Dusun Sualan, Desa Sibaganding dan Huta Anggarajim, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara akhir-akhir ini menjadi langganan terjadinya peristiwa banjir bandang yang penuh lumpur dan batuan serta gelondongan kayu seperti terjadi pada, Kamis (13/5/2021) lalu.

Menurut berbagai pihak, termasuk warga Nagori Sipangan Bolon yang nota bene masih berdekatan langsung dengan Hutan Sitahoan menyebut musibah tersebut tak luput dari aksi pembalakan hutan di sekitar kota parawisata Parapat. Seyogyanya hutan tersebut diharap menjadi penyangga air hujan dan penyeimbang ekosistem, dan kelestarian lingkungan sekitar Kota Parapat, apalagi mengingat topografi Kecamatan Girsang Sipangan Bolon yang penuh perbukitan.

Salah seorang sumber yang juga merupakan warga Kecamatan Girsang Sipangan Bolon yang terdampak banjir bandang, Sabtu (15/5/2021) dijumpai di salah satu warung di seputaran terminal Sosor Saba Parapat mengatakan, pemerintah supaya mengembalikan fungsi hutan di daerah sekitar Parapat khususnya Hutan Sitahoan yang akhir-akhir ini marak penebangan kayu. 

Dikatakannya, bahwa selama tiga tahun terakhir ini ada aktifitas penebangan pohon untuk kegiatan perusahaan seperti PT. Toba Pulp Lestari (TPL), penebangan pohon untuk pembukaan lahan pertanian oleh masyarakat dan salah satu perusahaan yang disebut-sebut milik warga kota Pematangsiantar yang kerap disebut dengan julukan “Ratu Kayu”.

Penebangan pohon berupa kayu alam dalam jumlah besar yang tidak diimbangi dengan reboisasi, jelas merupakan tindakan pengrusakan, namun sepertinya hal tersebut luput dari pengawasan dan malah seolah ada pembiaran pengrusakan hutan tersebut.

Kerusakan Hutan Sitahoan ini harus segera diperbaiki. Segala kegiatan yang mengakibatkan kerusakan hutan, harus segera dihentikan. Untuk itu dibutuhkan kerjasama dari semua pihak, khususnya ketegasan dan keseriusan dari pemerintah pusat yang harus serius dan tegas dalam melakukan perbaikan guna mengembalikan fungsi hutan sebagaimana sejatinya.

Sumber juga menyesalkan aksi penebangan kayu di Hutan Sitahoan yang mengeluarkan hingga tiga truk kayu gelondongan per harinya. Dan diyakininya tidak memiliki dokumen alias illegal, namun bisa berlangsung hingga tiga tahun belakangan. 

“Apa nggak terjadi banjir bandang, hutan Sitahoan kini sudah gundul. Tiga truk tiap hari keluar kayu gelondongan dari sana, kupastikan itu tanpa dokumen alias illegal,” ujar sumber.

Ditambahkan sumber bahwa, musibah kali ini belum separah dengan prediksi musibah yang bisa saja terjadi kelak jika seluruh stakeholder tidak menghentikan aktifitas penebangan kayu di kawasan hutan sekitar Kecamatan Girsang Sipangan Bolon khususnya hutan Sitahoan yang posisinya persis diatas perbukitan kota Parapat. 

“Kita lebih khawatir musibah yang bisa terjadi lebih parah dari ini. Karena sisa penebangan kayu dan akarnya akan membusuk nantinya yang bisa mengakibatkan rongga tanah dan tentunya rentan terhadap terjadinya longsor yang bisa menimbun sebagian kota Parapat,” ujarnya menutup pembicaraan. (ES)

Share:
Komentar

Berita Terkini