PN Medan Gelar Sidang Lanjutan Dugaan Penipuan dan Penggelapan Sebesar Rp 3,6 Miliar

Dibaca:
Editor: dailysatu author photo

dailysatu.com - Sidang lanjutan terdakwa Tanuwijaya Pratama yang berlangsung di ruang Cakra 8 Pengadilan Negeri (PN) Medan beragendakan mendengarkan keterangan dari saksi ahli Pidana dari UISU, Panca Putra menarik perhatian pengunjung sidang.

Pasalnya dalam persidangan yang di pimpin oleh Majelis Hakim yang di ketuai Immanuel Tarigan tersebut saksi ahli Pidana, Panca Putra memberikan pendapatnya didepan persidangan seputar pengetahuannya dan dibawah sumpah menerangkan, Wanprestasi, penipuan dan penggelapan merupakan perbuatan 'beda tipis' hanya melihat dari sudut pandang peristiwa atau kronologisnya.

Saat ditanya oleh ketua majelis hakim Immanuel Tarigan tentang perbedaan wanprestasi (ingkar janji) dengan penipuan. Ahli menjelaskan bahwa wanprestasi perjanjian yang dibuat bersama, namun pada waktu yang telah ditentukan tidak bisa melaksanakannya. Selain itu tidak ada niat (mansrea) dan melakukannya sesuai kesepakatan tidak dipergunakan pada tempat lain serta berulang- ulang.

Sedangkan penipuan kata Ahli, dari awal sudah memiliki niat tidak baik (mensrea), lalu dengan rangkaian kata bujuk rayu. Lalu penggelapan menguasai suatu barang yang ada pada dirinya dilakukan dengan cara melawan hukum.

"Jadi kalau kita ilustrasikan, sia A meminjam atau meminta penyuntikan dana ke satu perusahaan untuk membangkitkan keuangan perusahaan kepada B. Kemudian dijanjikan keuntungan 30% dari penyertaan modal, namun janji tersebut tidak di tepati oleh si A. Apakah hal itu dapat dikatakan sebagai perbuatan penipuan," tanya Immanuel.

Menjawab pertanyaan Majelis Hakim, Ahli dengan tegas menyebutkan kalau itu penipuan.

"Itu penipuan pak. Kalau sepanjang kesepakatan bersama antara si A dan B tidak mempunyai niat buruk (Mensrea)," tegas saksi Ahli saat dipersidangan di ruang Cakra 8 PN Medan, Selasa (20/4/2021). 

Saat ditanya kembali oleh Majelis Hakim selain itu dana yang dipinjam atau penyertaan modal dipergunakan sesungguhnya untuk meningkatkan kembali keuangan perusahaan. Apakah itu penipuan?.

"Kalau hal itu yang dilakukan dapat dikatakan Wanprestasi, selama dana itu dipergunakan untuk perusahaan," terang Ahli pidana.

Saat ditanya lagi oleh Immanuel gimana tentang pembayaran atau pengembalian modal, dilakukan dengan dua cara yang kita ketahui pembayaran secara Kwartal (tunai) dan giral (bilyed giro)?.

"Ada Pembayaran secara giro sebanyak 18 lembar Bank Panin. Namun cuma satu lembar yang bisa dicairkan atau diuangkan. Itu gimana pendapat ahli?," ucap Immanuel.

"Sepanjang tidak secara berulang- ulang. Sementara pembayaran tersebut diketahui ditolak karena tidak ada dana," jelas Alumni UISU ini dapat dikatakan Wanprestasi. Tapi kalau giro itu diketahui ditolak tidak memiliki dana, lalu diberikan lagi sebagai alat pembayaran jelas itu penipuan. 

"Jadi sepanjang giro tersebut tidak dipergunakan berulang kali sebagai alat pembayaran karena diketahui ditolak tak ada dananya, itu Wanprestasi, menegaskan yang dikatakan Ahli," kata Immanuel. Diketahui ada 18 bilyed giro diberikan kepada si saksi korban satu giro telah diuangkan senilai Rp 200 juta.

Dikatakan Panca, kalau Penggelapan barang yang ada pada dirinya didapatkan dengan cara melawan hukum, Tandas Ahli. 

Sementara saksi Ahmad dari Panin Bank hanya menjelaskan seputaran lima giro yang masuk ke bank tersebut.

Setelah mendengar keterangan dari saksi yang dihadirkan JPU Fransiska Panggabean dari Kejati Sumut, Majelis Hakim menunda persidangan hingga pekan depan dengan agenda mendengarkan keterangan dari kedua terdakwa.

Sementara Tanuwijaya Pratama saat dikonfirmasi seusai sidang sehubungan perkara dugaan penipuan dan penggelapan Rp,-3,6 M uang Rudi yang sedang dihadapinya mengatakan, dirinya bukanlah seorang penipu atau menggelapkan uang orang, seperti yang dituduhkan beberapa media terbitan lokal. 

"Saya (Tanuwijaya - red) sangat keberatan dengan kata- kata di media tersebut. Sebab saya belum dinyatakan bersalah oleh putusan Pengadilan. Namun saya sudah di Justise dari berita media, sementara secara proses hukum terhadap saya masih berjalan. Akibat berita di media tersebut saya sudah terhukum dari nama baik dan keluarga besar saya tercemar. Namun saya masih tetap kuat menjalani persidangan setiap  Selasa," tuturnya saat di loby PN Medan, Selasa (20/4/2021). 

Lanjut Tanuwijaya mengatakan awal mula pertemuannya dengan Rudi dibulan Mei 2016 di rumah makan Uda Sayang.

Jadi perlu juga saya jelaskan yang sebenarnya, awal mulanya pertemuan saya dengan Rudi di bulan Mei 2016 dirumah makan Uda Sayang. Dirumah makan itu kami membuat perikatan kerjasama dalam bisnis meubel. Rudi bersedia menyertakan modal ke dalam perusahaan kami yang sedang mengalami masa sulit. 

Dana awal Rudi memberi ke perusahaan sebesar Rp,- 1 miliyar. Dana tersebut dipergunakan untuk membayar hutang perusahaan. Kemudian Rudi kembali memberikan dana untuk Sewa gudang produksi,renovasi Gudang,, beli mesin dari Cina, beli mobil pickup, sewa ruko dan renovasi Ruko. Kesemuanya itu untuk peningkatan produksi. Setelah perusahaan baru berjalan satu tahun dari suntikan dana tersebut, tiba- tiba Rudi minta dikembalikan dananya semua secara paksa dan menyatakan mengundurkan diri atau mundur dari kerjasama tersebut.

Sementara, dana suntikan dari Rudi semuanya telah dipergunakan untuk kepentingan pabrik dalam meningkatan produksi serta gaji karyawan. Karena perusahaan baru mulai beroperasi dananya belum banyak, saya sudah dipaksa oleh saksi korban Rudi dengan membawa aparat untuk segera membuka giro. Meski sudah saya katakan bahwa dana belum ada, saksi korban Rudi tetap memaksa saya untuk mengembalikan semua uangnnya.

Dengan merasa tertekan dan terpaksa saya buka giro sebanyak 18 lembar Panin Bank. Seterusnya Rudi mengkliring 6 lembar giro ke Panin Bank. Karena keuangan perusahaan belum pulih satu giro dapat dicairkan. Namun pada pencairan giro kedua, saya sudah bilang sama Rudi untuk tidak memasukan giro tersebut. Karena dana atau saldo tidak cukup. Tetapi Rudi tetap memasukan ke bank sehingga ditolak.

Nah untuk menjadikan saya terdakwa sampai saat ini, atas laporan Rudi ke polisi dengan tuduhan penipuan. Dengan barang bukti 5 lembar giro yang ditolak bank. Seperti saat diceritakan diawal penanaman modal oleh Rudi baru berjalan satu tahun, dimana perusahaan masih melakukan renovasi pabrik, Ruko untuk galery dan pembelian mesin.

Rudi tahu itu semua, bahkan dari laporan keuangan perusahaan diberitahu melalui Fitri mantan sekertaris perusahaan. Namun Rudi tetap melaporkan saya. Jadi yang saya katakan ini bukanlah pembelaan diri saya, ini merupakan kenyataan yang saya hadapi," terangnya.

Sementara pada sidang sebelumnya diketahui dari keterangan saksi sekertaris dan supir perusahaan Alan Tobing menerangkan dalam kesaksiannya ada perubahan peningkatan keuangan CV Permata Deli yang bergerak dalam usaha meubel dan furniture yang dikelola oleh kedua terdakwa.

"Semenjak adanya suntikan modal dari Rudi ada kemajuan dibandingkan sebelumnya, dimana ada kenaikan gaji dan pembayaran tepat waktu," terang saksi Alan dan sekertaris perusahan tersebut.(Sagala)

Share:
Komentar

Berita Terkini