Jadi Saksi di PN, Marketing Mobil Ini Gugup Saat Ditanya Hakim

Dibaca:
Editor: dailysatu author photo

dailysatu.com - Terkait sidang perkara Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) puluhan miliar dengan terdakwa Aprianda alias Ali beragendakan mendengarkan keterangan dari 2 orang saksi yang dihadirkan Penuntut Umum Kejari Medan, Nurhayati Ulfia yakni Hamzah Syamsuri Daulay selaku marketing Dealer Mitsubishi dan Diki Sibarani selaku agensi perumahan.

Dalam sidang yang digelar diruang Cakra 3 Pengadilan Negeri (PN) Medan, Rabu (14/4/21) saksi Hamzah tampak gugup saat dicecar beberapa pertanyaan oleh Majelis Hakim. 

Saat Ketua Majelis Hakim, Ali Tarigan dan Hakim Anggota Sayed Tarmizi menanyakan berapa DP pembelian satu unit mobil Pajero dan Dua Mistsubishi Fuso yang dibayarkan terdakwa dan jumlah cicilan perbulannya?, saksi terlihat mereka-reka angka.

"Seperti untuk Pajero DP Rp100 juta cicilannya Rp10 juta dan Truk Fuso DP Rp160 Juta cicilan perbulannya Rp10 juta.

Mendengar jawaban saksi Majelis Hakim kembali menanyakan jumlah dp dan cicilan, soalnya jawaban saksi tak sebanding dengan perunitnya bahkan lebih murah dibandingkan bila beli cash. 

"Tolong saksi yang benar tadi anda menyatakan harga baru saja Pajero seharga Rp500 juta dan Mitsubishi fuso Rp700 juta," tegur anggota majelis hakim.

Mendengar ucapan Majelis Hakim itu, saksi terlihat gugup. Dalam persidangan ini saksi juga tak ada memegang dokumen kenderaan, dan kabarnya dokumen itu telah disita oleh BNN saat melakukan penangkapan terhadap terdakwa pada 30 September 2019 di warung kopi Barcelona di Jalan Jamin Ginting Medan dengan barang bukti 6 Kg sabu pada waktu itu dan kini menjalani hukuman.

Sempat terdiam dan lagi-lagi saksi menyatakan kemungkinan dp lebih dari Rp 100 jutaan dan cicilan lebih dari Rp 15 jutaan. Dan saat ditanya kembali kapan pembelian unit tersebut?, saksi menjawab di tahun 2017. Dan belum ditanya uang dari mana langsung saksi menyatakan bahwa terdakwa mendapat uang dari hasil undian Bank Mestika.

Mendengar ucapan saksi, Majelis Hakim langsung menanyakan darimana dirinya tahu?, dan sakai menyebutkan kalau pada saat itu dirinya sempat menanyakan kepada terdakwa.

Namun mengenai tenggang waktu pembelian pajero dengan truk fuso, saksi kembali menyatakan lupa karena tak membawa dokumen.

Hamzah hanya menegaskan, bahwa Pajero pada Desember 2017 dan dua fuso pada awal 2018.

Tak jauh berbeda dengan saksi Diki Sibarani mengemukakan bahwa pada Desember 2017 terdakwa membeli rumah di Pondok Surya. 

"Terdakwa membeli rumah seharga Rp700 juta, namun bukan Maruli langsung tetapi memberi kuasa kepada saya," ujar Diki.

Pak Maruli memberikan kuasa untuk menjualkan rumahnya, waktu terdakwa berniat membeli cash seharga Rp700 juta dengan Dp Rp50 juta.

Tahunya uang pembelian rumah dari undian Bank Mestika, lanjut Diki saat itu adanya komplain dari terdakwa soal kepengurusan surat di notaris. 

"Sebab telah pembayaran DP dilanjutkan dengan pembayaran sisanya Rp650 juta, berarti sudah lunas namun surat-suratnya belum selesai," ujar saksi Diki sembari katakan kalau dirinya mengetahui terdakwa dapat undian Bank Mestika sebesar Rp 2 miliar dari anggotanya yang bercerita kepada terdakwa.

"Maka tahu uang dari hasil undian, belakangan tahu dari hasil narkoba saat dipanggil penyidik BNN," ungkap Diki.

Masih dalam persidangan tersebut, saksi tidak menjelaskan siapa notaris tempat pengesahan akta jual beli rumah antara terdakwa dengan Maruli sipemilik rumah.

Begitu juga soal pekerjaan, lagi-lagi saksi menyatakan bahwa terdakwa bekerja pada ekspedisi. Dan itu tahunya dari anggotanya saat bertemu dengan terdakwa.

Setelah mendengarkan keterangan kedua saksi, majelis hakim menunda persidangan hingga pekan depan.(Sagala)

Share:
Komentar

Berita Terkini