Pj. Kades dan Bendes Miga Dilaporkan ke Polres Nias, Ini Kasusnya!

Dibaca:
Editor: dailysatu author photo

dailysatu.com - Pj. Kepala Desa (Kades) dan Bendahara Desa (Bendes) Miga, Kecamatan Gunungsitoli, Kota Gunungsitoli, Sumatera Utara, dilaporkan ke polisi.

Bukan tanpa sebab, keduanya dilaporkan lantaran diduga melakukan tindak pidana penganiayaan secara bersama-sama terhadap Ketua Badan Permusyarawatan Desa (BPD) Miga, Irmin Zai.

Tiba sekitar pukul 20:00 Wib, Irmin didampingi rekannya masuk ke ruang Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Nias untuk melaporkan Pj. Kades Miga Syamsul Sidiq Telaumbanua dan Bendes Miga Esran Laia.

Dihadapan polisi, Irmin mengungkapkan bahwa dirinya menjadi korban penganiayaan yang dilakukan Syamsul dan Esran dalam musyawarah Desa Miga bersama masyarakat, Jumat (12/3/2021).

Laporan Irmin diterima Kanit SPKT-B Polres Nias, Ganda l Bate'e, dengan Surat Tanda Penerimaan Laporan Polisi (STPLP) bernomor 61/lll/2021/NS.

Kepada wartawan, Irmin menyebut jika penganiayaan terjadi dihadapan aparat dan masyarakat Desa Miga yang menghadiri musyawarah terkait pertangungjawaban penggunaan dana desa Tahun Anggaran 2020.

"Awalnya bermula ketika saya pergi keluar ruangan meninggalkan musyawarah, namun niat itu dihentikan masyarakat dengan meminta saya kembali ke tempat duduk. Karena menghargai permintaan masyarakat, saya pun kembali. Tetapi saat hendak duduk, saya dihadang Esran sembari memegang dan memutar tangan kiri saya. Syamsul juga ikut melakukan hal yang sama. Setelah itu, keduanya mendorong hingga saya terjatuh ke lantai", kata Irmin.

Beruntung, lanjut Irmin, masyarakat yang melihat aksi arogan kedua pejabat teras Pemerintahan Desa Miga tersebut langsung melerai.

"Saya tidak terima penganiayaan yang mereka berdua lakukan. Saya berharap, polisi dapat segera menindaklanjuti laporan saya", ujar Irmin.

Menurut informasi dihimpun, musyawarah digelar berdasarkan laporan masyarakat Desa Miga kepada BPD atas dugaan korupsi pengadaan tong sampah Tahun 2020.

Dimana, biaya pengadaan tong sampah yang terbuat dari bahan plastik itu berasal dari anggaran Dana Desa Miga Tahun 2020. Masyarakat menduga, ada terjadi Mark-Up harga pengadaan.

Sebab, harga pengadaan tong sampah yang tercantum dalam laporan pertanggungjawaban realisasi pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja Desa Miga Tahun 2020 terlalu tinggi dibandingkan dengan harga pasaran. (ds/Ris)

Share:
Komentar

Berita Terkini