Pemprovsu Diminta Alokasikan APBD Untuk Perawatan Rumah Raja Adat 400 Tahun di Nisel

Dibaca:
Editor: Romi Syah author photo

dailysatu.com - Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) diminta agar mendukung untuk dijadikannya Desa Onohondro, Kecamatan Fanayama, KabupatenNias Selatan (Nisel) menjadi desa wisata, karena memiliki keunggulan budaya dan alam yang menjadi aset potensial serta memiliki rumah raja adat terbesar yang berusia lebih dari 400 tahun. 

"Memang desa itu sangat kaya wisata dan keunggulan budaya serta memiliki bangunan rumah adat yang masih berdiri tegak, sudah berusia 400 tahun, walaupun membutuhkan perawatan dari pemerintah," kata Anggota Komisi E Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumut Drs Penyabar Nakhe kepada wartawan di gedung dewan Jalan Imam BonjoL Medan, Jumat (12/3/2021)

Berdasarkan penuturan Kades Onohondro Temaziso Hondro kepada Penyabar Nakhe, memang desa mereka baru masuk listrik pada 2018 dan aksesibilitas jalan ke desa baru dibuat pada 2020, sehingga kondisi ini menandakan desa mereka masih asri. 

"Walaupun kurang perhatian dari pemerintah dalam hal pembangunan, tapi Desa Onohondro memiliki keunggulan untuk dijadikan desa wisata alam dan budaya yang sangat menawan serta membuat betah wisatawan tinggal berlama-lama di kawasan terpencil itu," tegasnya.

Menurut Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Sumut itu, warga desa juga kesehariannya masih mengambil air minum di kawasan telaga yang dingin dan bersih, sehingga masyarakat sangat berharap adanya program desa wisata di desa mereka.

Menurut politisi muda PDI Perjuangan ini, Desa Onohondro memiliki kekayaan budaya berupa 24 rumah adat, termasuk sebuah rumah raja adat terbesar kedua (Omo Sebua) di Nisel yang diperkirakan sudah berusia  400 tahun. Didalam rumah raja tersebut masih ditemukan tempat penghakiman bagi warga yang memiliki kesalahan, sehingga sangat tepat untuk dipugar dengan menggunakan APBD Sumut.

"Kondisi rumah adat ini sangat membutuhkan  perawatan. Masyarakat desa tidak sanggup lagi merawatnya, karena biayanya cukup mahal. Dana desa juga tidak cukup untuk  perawatan dan perbaikan rumah adat tersebut," cetusnya.

Berkaitan dengan itu, anggota dewan Dapil Kepulauan Nias ini akan berupaya  mengusulkan pengalokasian anggaran perawatan dan perbaikannya  dari APBD Sumut serta meminta dukungan semua pihak agar Desa Onohondro menjadi desa wisata yang ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara. (sus)

Share:
Komentar

Berita Terkini