Dr Poaradda Nababan: Prof Syaifuddin Tak Pantas Jadi Kadisdiksu

Dibaca:
Editor: Bang Romi author photo

dailysatu.com - Anggota Komisi E Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sumatera Utara (DPRD Sumut) dr Poaradda Nababan SpB dengan nada geram dan marah sembari menggebrak meja menegaskan bahwa Prof Syaifuddin tidak  pantas menjadi Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Sumut.

Hal ini dikatakan politisi PDI Perjuangan tersebut saat rapat dengar pendapat (RDP) Komisi E DPRD Sumut dengan Disdiksu membahas soal pertemuan pembelajaran tatap muka bagi sekolah di provinsi ini, PPDB Online dan program kerja tahun anggaran 2020 dan 2021 diruang rapat komisi gedung dewan Jalan Imam Bonjol Medan, Selasa (16/3/2021).

Ketika dikonfirmasi usai rapat, Dr Poaradda menjelaskan bahwa RDP yang mengagendakan usulan legislatif agar Pemprovsu segera membuka pertemuan tatap muka bagi seluruh sekolah di Sumut, PPDB Online dan program lainnya itu berjalan lancar dan santai ketika Komisi E DPRD Sumut menyampaikan bahwa Disdik Sumut memiliki anggaran yang besar untuk kemajuan pendidikan di provinsi ini, maka Kadis dan seluruh jajarannya agar bekerja serius dan anggaran jangan dimain-mainkan, yang nantinya sangat merugikan rakyat. Seperti persoalan penerimaan siswa baru ditahun-tahun sebelumnya yang selalu menuai masalah dan pembangunan gedung sekolah yang juga banyak bermasalah.

Namun, lanjut dr Poaradda, saat dirinya mengingatkan Prof Syaifuddin agar tidak menyampaikan secara terbuka didepan anggota legislatif terkait honor yang diterimanya sebesar Rp1.2 juta per standing, ketika mengajar di Universitas Sumatera Utara (USU) pada RDP gabungan antara Komisi E dan C dengan Disdiksu sekira 2 Pekan lalu, Kadisdiksu yang baru itu malah menjawab dengan kalimat yang tidak bijaksana.

“Kita sampaikan bahwa sikap seperti itu tidak perlu ditunjukkan kepada kami sebagai anggota dewan. Dan tidak etis hal itu disampaikan dalam forum resmi DPRD Sumut. Karena itu saya ingatkan pada RDP hari ini. Tapi Kadisdiksu yang baru itu malah menjawab dengan kalimat yang tidak bijak. Syaifuddin malah mengatakan bahwa dirinya seorang ahli bahasa. Jadi anda-anda itu salah mengerti. Saya 20 SKS (sistim kredit semester,red) mengajar masalah bahasa,” papar dr Paoradda sekaligus menirukan ucapan Prof Syaifuddin.

Mendengar ucapan seorang Profesor seperti itu, Politisi PDI Perjuangan ini geram dan marah sembari menggebrak meja seraya berkata “Pak Kadis. Bapak kemarin pada saat RDP gabungan mengatakan bahwa sekali berdiri ada honor Profesor Rp1,2 juta yang diterima. Kalau bapak sampaikan begitu, jujur saya dokter spesilis bedah. Tapi saya masih memakai etika dan tidak pernah cerita pada kawan-kawan di DPRD Sumut ini. Apa program kita, ya itulah kita kerjakan. Jangan hal-hal begitu dikatakan. Itu tidak etis,” cetus dr Poaradda.  

Tidak hanya itu, dr Poaradda juga mengatakan, setiap RDP yang dilakukan oleh Komisi E dengan Disdiksu dan dinas lainnya, hanyalah untuk saling mengisi dan memperbaiki agar provinsi ini bisa maju.

“Apalagi Disdiksu yang sudah berantakan. Namun dengan demikian, Prof Syaifuddin terus menjawab. Lalu saya katakana padanya bahwa kami ini adalah dewan yang terhormat. Kami dipilih rakyat, sedangkan bapak hanya diangkat. Bapak tidak pantas menjabat sebagai Kadis Pendidikan Sumut. Bagi saya, seorang Jenderal (Kadis,red) harusnya mampu mengatur semua anggota, bukan malah rajin beralasan dengan menyatakan masih baru menjabat sebagai Kadis, aku dengar hal itu sangat ganjil. Lantaran banyak staf yang diberi tugas untuk menjawab materi atau menghadapi berbagai situasi. Dengan bapak ucapkan jumlah honor Professor di USU, bapak menunjukkan keraguan dan tidak 100 persen sebagai kadis. Berarti bapak tak pantas jadi kadis,” tandas dr Poaradda seraya menambahkan bahwa itulah yang saya ucapkan padanya dalam RDP tadi.

Sementara itu, Kadisdik Sumut Prof Syaifuddin usai RDP ketika dikonfirmasi terlihat melunak sembari mengatakan Anggota Komisi E dr Poaradda tidak menggebrak meja dan tidak pernah menyebut dirinya tidak pantas menjabat Kadisdiksu.

“Agak diayunkan saja tangannya ke meja. Gitunya. Gebrak meja itu biasalah. Supaya lebih paham. Gitu saja kalau saya menanggapinya,” ucap Syaifuddin. (sus)

Share:
Komentar

Berita Terkini