Tipu Anggota DPR RI, Terdakwa Halim Wijaya Dituntut 3 Tahun 8 Bulan Penjara

Dibaca:
Editor: dailysatu author photo

dailysatu.com- Jaksa Penuntut Umum (JPU), Rahmi Shafrina, SH, MH menuntut terdakwa Halim Wijaya selama 3 tahun 8 bulan penjara saat dipersidangan yang digelar di ruang Cakra 9 Pengadilan Negeri (PN) Medan, Selasa (23/2/2021).

"Meminta kepada Majelis Hakim untuk menjatuhkan hukuman kepada terdakwa Halim Wijaya selama tiga tahun dan delapan bulan penjara," ucap JPU dihadapan Majelis Hakim yang diketuai Denny L Tobing, SH, MH.

Setelah mendengar tuntutan JPU, Majelis Hakim menunda persidangan hingga pekan depan.

Mengutip dakwaan JPU, bahwa sekitar tahun 2000 terdakwa mengenal saksi Siska Sari W Maulidhina (dilakukan penuntutan secara terpisah) yang mana terdakwa adalah teman dekat dari Siska Sari W Maulidhina alias Siska. Bahwa pada tahun 2015 Siska mengenal saksi korban Rudi Hartono Bangun, SE melalui temannya yang bernama Liza. 

Setelah perkenalan tersebut Siska berteman dengan saksi korban dan sering berkomunikasi dengan saksi korban via pesan Whatsapp. Bahwa pada tahun 2016 Siska sering bercerita pada saksi korban tentang ghaib tentang kakek buyutnya dimana menurut Siska bahwa kakek buyutnya menikah dengan Ratu Pantai Selatan. 

Kemudian karena masih ada keturunan Ratu Pantai Selatan yang sering disebutnya UTI, Siska mengaku memiliki Indera Keenam (Indigo) yang dapat melihat hal-hal ghaib kepada saksi korban. Bahwa sekira bulan Februari 2017 Siska mengirimi saksi korban pesan dan menyampaikan bahwa saksi korban sedang diincar oleh KPK untuk menjadi Target OTT. 

Selanjutnya saksi korban berkata  berkata kepada Siska, “Saya bukan kepala daerah yang banyak nerima-nerima upeti”. Lalu Siska menjawab “dari tim KPK punya flashdisk yang isinya 6 item kesalahan kamu, tapi bisa kita tangkal dengan jin ini, supaya dibuang flashdisknya” lalu saksi korban berkata “kesalahannya apa saya? coba bacakan kalau jin itu bisa ngelihat 6 item kesalahan saya itu”. Kemudian Siska menjawab “iya nanti, kita tanya jin itu sama UTI (Ratu Pantai Selatan)”.

Beberapa hari kemudian saksi korban diajak bertemu oleh Siska di Hotel Four Point Jalan Gatot Subroto Medan. Kemudian saksi korban bersama dengan saksi Joni Iskandar Muda Nasution Anggota Polri SatBrimob bertemu dengan Siska di Hotel Four Point Medan. Selanjutnya di Hotel Four Point tersebut Siska menyampaikan bahwa Ratu Pantai Selatan ingin bertemu dengan saksi korban. 

Kemudian saksi korban masuk ke kamar hotel berdua dengan Siska untuk melakukan ritual yang disampaikan oleh Siska. Selanjutnya saksi korban melihat Siska duduk bersila diatas tempat tidur sambil menutup mata, tiba-tiba saksi korban melihat Siska tersentak dan membuka matanya dan berkata dengan logat jawa, “ini aku, UTI. apa kabar Di?” dan saksi korban menjawab “Iya UTI, sehat” lalu Siska yang seolah-olah kerasukan tersebut berkata “tadi aku dengar dari siska, kamu tanya orang KPK” dan saksi korban menjawab “iya, bagaimana itu ?” dan dijawab oleh Siska yang seolah-olah kerasukan tersebut berkata “hati-hati kamu, memang kamu lagi diincar”.

Dan saksi korban bertanya “bagaimana supaya aman ?” dan dijawab oleh Siska yang seolah-olah kerasukan tersebut “nanti kutanya sama kuyutnya, dia punya jin-jin yang bisa bantu” dan saksi korban jawab “iya, nanti kasi tau ya UTI”. Tidak berapa lama kemudian Siska kembali tersentak dan ianya tertidur seperti pingsan. Berselang 2 menit, Siska terbangun dan ianya mengatakan pada saksi korban bahwa ia merasa pusing. 

Selanjutnya Siska bertanya kepada saksi korban “apa tadi dibilang UTI?” dan saksi korban menjawab “ya masalah yang KPK itu, saya disuruh hati- hati. jadi kawannya UTI si UYUT, ada jin nya mau bantu”. Setelah itu Siska berkata “yaudah, nanti malam aku tanyakan lagi. karna biasa dia malam datang kerumah”. 

Selanjutnya pada malam harinya setelah pertemuan di Hotel Four Point tersebut, beberapa hari kemudian Siska kembali menelpon saksi korban dengan berkata “kata UTI (Ratu Pantai Selatan) jin-jin anak buahnya bisa menyelesaikan permasalahan kamu, tapi syaratnya harus ada bayi merah baru lahir yang jadi tumbal”, lalu saksi korban menjawab “kemana dicari bayi itu ?” dan Siska berkata lagi “yaudahlah, nanti kita carikan tumbal yang lain”.

Beberapa hari kemudian Siska menghubungi saksi korban via Whatsapp dengan berkata “kata UTI (Ratu Pantai Selatan) bisa pakai ayam hitam aja sebagai gantinya” lalu saksi korban berkata “emang ayam hitam dimana?” dan Siska menjawab “di tanjung morawa ada, namanya David yang jual, nanti kita tanya dulu”. Selanjutnya sekitar sekitar 15 menit kemudian, Siska berkata “ini ada beberapa ekor, harganya 7 juta per ekor”. 

Lalu saksi korban bertanya  “jadi kalau kek gitu berapa ekor?” dan dijawab oleh Siska “kalau dilihat oleh jin, tim dari KPK yang mau bergerak ada 4 orang, per orangnya dibutuhkan sekitar 7 ekor ayam hitam atau 8 ekor ayam”. Selanjutnya dari keterangan Siska tersebut lalu saksi korban diminta untuk mengirimkan uang sejumlah uang ke rekening Bank BCA milik terdakwa Halim Wijaya yang merupakan teman baik dari Siska dengan alasan bahwa HP dan Rekening saksi korban sudah disadap.

Bahwa terdakwa bekerja sama dengan Siska dimana peran dari terdakwa adalah untuk menerima uang dari saksi korban dengan cara menjemput langsung uang ke rumah saksi korban dan juga memakai rekening dari terdakwa untuk menampung uang yang dikirim oleh saksi korban. Berselang seminggu kemudian, Siska kembali menelfon saksi korban via Whatsapp dengan berkata “ini ada lagi tim lain yang mau OTT sebanyak 3 orang”, lalu saksi korban kembali diminta oleh Siska untuk mengirimkan uang untuk pembelian ayam hitam dengan tujuan yang sama untuk ritual jin yang akan mencegah Petugas KPK yang akan melakukan OTT terhadap saksi korban.

Selanjutnya sekitar beberapa minggu kemudian, Siska menghubungi saksi korban untuk mentransferkan kembali sejumlah uang dengan alasan bahwa pihak KPK akan menangkap saksi korban karena target OTT sehingga harus ditangkal dengan ritual yang memerlukan ayam hitam. Selanjutnya saksi korban kembali mengirimkan sejumlah uang ke rekening Bank milik Siska dan rekening milik terdakwa.

Bahwa terdakwa ada beberapa kali juga memberi uang kepada terdakwa melalui security saksi korban bernama saksi Samuel Aritonang untuk menangkal OTT KPK yang mana uang tersebut diambil langsung oleh terdakwa kerumah saksi korban di Jalan Kapten Muslim Komplek Mutiara Nomor 3 dimana dalam urusan ritual untuk menangkal agar saksi korban jangan ditarget oleh KPK. Siska meminta sejumlah uang sebanyak sekitar 10 kali dimana diantara pengiriman uang tersebut, selain uang dikirim ke Rekening Bank milik Siska dan terdakwa serta diambil tunai oleh terdakwa. Siska juga ada menyuruh saksi korban mentrasnfer ke rekening Bank milik ayah Siska An. Gunawan Ananta.

Selanjutnya beberapa minggu kemudian, Siska kembali menelfon saksi korban melalui Whatsapp dengan berkata “bang, kamu diikuti dan ada yang mau ngabisi. apartemen kamu dipantau setiap pagi. terus ada sniper yang mau bunuh pakai senjata” lalu saksi korban berkata “maksudnya gimana ?” dan dijawab oleh Siska “aku dapat kabar dari UTI (Ratu Pantai Selatan)” lalu saksi korban bertanya “aku salah apa ? jadi gimana itu ?” dan dijawab oleh Siska “katanya ada saingan kamu atau orang yang gak senang sama kamu”. Lalu Siska berkata “hati-hati kalau pagi ada yang naik mobil nengok mantau keliling”.

Beberapa hari kemudian Siska mengatakan “ini bisa dibantu juga kata UTI (Ratu Pantai Selatan) dengan cara bantuan jin dari UTI”. Lalu saksi korban berkata “Bagaimana mereka bantunya?” dan dijawab oleh Siska “ya, sama seperti KPK kemarin. kita beli ayam hitam, tapi kembali lagi tiap orang yang mau ngerjai kamu itu beda-beda keperluan ayam hitamnya. nengok isi badan mereka masing-masing”. Setelah itu karena merasa takut dan cemas dengan perkataan Siska kembali disuruh untuk membeli ayam hitam dengan jumlah yang juga cukup banyak dan dilakukan beberapa kali sekitar 7 kali oleh Siska. Dimana uang tersebut juga dikirim ke rekening milik Siska, terdakwa Halim Wijaya dan Gunawan Ananta Siregar.

Selanjutnya sampai pada bulan Maret tahun 2018, saksi korban selalu diminta oleh Siska untuk mengirimkan sejumlah uang dengan alasan membantu saksi korban agar tidak menjadi target oleh KPK. Karena kehabisan uang, saksi korban menjualkan 1 unit mobil Toyota Land Cruiser warna hitam dengan nilai sekitar Rp. 800 juta kepada saksi Benny di Jalan Nibung Medan. 

Selanjutnya saksi korban meminta tolong kepada Benny untuk mengirimkan uang hasil penjualan mobil tersebut ke rekening Bank BCA milik Siska dan Bank BCA Terdakwa An. Halim Wijaya. Selain daripada itu, saksi korban juga ada meminjam uang kepada Benny sejumlah Rp. 1.300.000.000,- (satu milyar tiga ratus juta rupiah) dengan jaminan BPKB mobil saksi korban. Selanjutnya uang senilai Rp. 1.300.000.000,- (satu milyar tiga ratus juta rupiah) tersebut kembali dikirim ke Rekening BCA milik Siska dan Bank BCA An. Halim Wijaya. 

Setelah itu saksi korban berkata kepada Siska melalui telfon “udah, aku udah habis uang” dan dijawab oleh Siska   “yaudah, nanti saya sampaikan ke UTI (Ratu Pantai Selatan) supaya orang KPK reda narget kamu”. Sekitar bulan Mei tahun 2018, saksi korban mulai merasa ada yang aneh dengan dirinya lalu saksi korban menemui alim ulama dan bercerita tentang masalah yang saksi korban hadapi tersebut dan ternyata oleh alim ulama tersebut mengatakan bahwa saksi korban sudah dibodohi dan ditipu.

Dari situ saksi korban mulai tersadar bahwa saksi korban sudah ditipu oleh Siska dan terdakwa Halim Wijaya dengan cara mengatakan bahwa saksi korban ditarget oleh KPK sehingga saksi korban menyerahkan / mengirim uang kepada terdakwa dan Siska.

Selanjutnya secara baik-baik saksi korban mencoba meminta kepada Siska untuk mengembalikan uang saksi korban dan meminta nomor HP terdakwa , namun Siska malah marah kepada saksi korban dengan alasan bahwa ianya telah membantu saksi korban. Selanjutnya sekitar bulan Agustus tahun 2019, Siska memblokir telfon saksi korban, lalu saksi korban juga menghubungi no telpon Gunawan Ananta Sirehar dan menjelaskan bahwa saksi korban sudah dibohongi oleh Siska dan terdakwa. Namun nomor telepon saksi korban juga di blokir oleh Gunawan hingga saksi korban melaporkan perbuatan Siska dan terdakwa ke pihak yang berwajib.

Bahwa sejak tahun 2017 s/d  2018  terdakwa menerima uang milik saksi korban melalui petugas Security saksi korban bernama saksi Samuel Aritonang sejumlah lebih kurang Rp. 1 miliar, dimana terdakwa datang ke rumah saksi korban yang terletak Jalan Kapten Muslim Komplek Mutiara Indah I Kel. Dwikora Kecamatan Helvetia Kota Medan. 

Lalu saksi Samuel menyerahkan uang milik saksi korban kepada terdakwa di dalam mobil terdakwa sekira 10 kali, penyerahan masing-masing berisikan 10 lembar dengan pecahan 1000 Dolar Singapura dalam bentuk Valas (Mata uang Dollar Singapura) dengan setiap lembarnya pecahan 1.000 Dollar Singapura. Yang mana setiap uang yang diserahkan kepada terdakwa melalui saksi Samuel terdapat beberapa kali saksi Joni Iskandar selaku pengawal saksi korban melihat saksi Samuel menyerahkan amplop berisi uang tersebut kepada terdakwa Halim Wijaya di Jalan Kapten Muslim Komplek Mutiara Indah I Kel. Dwikora Kecamatan Helvetia Kota Medan.

Bahwa Terhitung sejak tahun 2017 s/d 2018 terdakwa ada menerima uang milik saksi korban melalui Siska, dimana bentuk uang yang diterima terdakwa  terima dari Siska tersebut dalam bentuk mata Uang yang terdakwa terima adalah Rupiah, US Dolar, dan Dolar Singapur. 

Bahwa pada bulan Desember 2017  terdakwa melakukan pemesanan mobil Toyota Voxy an. Siska kepada saksi Pangeran alias Akok dan pada bulan Februari 2018 terdakwa kembali melakukan pemesanan mobil Toyota Rush warna putih yang mana awalnya nama pemesan adalah Gunawan Ananta Siregar (ayah dari Siska), namun pada STNK dan BPKB nya dibuatkan nama Atika Puspita Sari (adik dari Siska).

Akibat perbuatan terdakwa bersama-sama dengan Siska, maka saksi korban Rudi Hartono Bangun, mengalami kerugian sebesar kurang lebih Rp. 4.022.650.000,- (empat milyar dua puluh dua juta enam ratus lima puluh juta rupiah).  

Sebagaimana diatur dan diancam Pidana dalam Pasal 378 KUHP jo Pasal 55 (1) ke – 1 KUHPidana. (Sagala)

Share:
Komentar

Berita Terkini