Dijerat UU ITE, Warga Jalan Timur Jalani Sidang Perdana di PN Medan

Dibaca:
Editor: dailysatu author photo

dailysatu.com - Terdakwa Marianty warga Jalan Timor (Timor Raya) No. 44-45, Kelurahan Gaharu, Kecamatan Medan Timur Kota Medan jalani sidang perdana di Pengadilan Negeri (PN) Medan, Selasa (2/2/2021).

Dalam sidang yang dipimpin oleh Majelis Hakim yang diketuai Denny L Tobing, SH, MH yang digelar di ruang Cakra 9 PN Medan ini beragendakan mendengarkan dakwaan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) Dwi Meily Nova, SH, MH.

Dalam dakwaan yang dibacakan JPU, Dwi Meily Nova menyebutkan bahwa sekitar Tahun 2011 Terdakwa Marianty membuat sebuah akun Facebook bernama Marianty Yen dengan URL https://www. facebook.com/marianty.yen dan menggunakan email kuiyen@yahoo.com. 

Lalu sekitar Tahun 2015 Terdakwa juga membuat sebuah akun Instagram bernama yenstehvano dengan URL https://instagram.com/yenstehvano?igshid=1kdi8oxei0wek mengunakan email kuiyen79@gmail.com dan Terdakwa menggunakan kedua akun tersebut untuk berinteraksi di media sosial dengan pengguna lainnya.

Kemudian pada hari Selasa tanggal 10 Maret 2020 sekira Pukul 19.00 Wib saat Terdakwa berada di Jalan Timor (Timor Raya) No. 44-45 Kel. Gaharu Kecamatan Medan Timur Kota Medan, Terdakwa dengan sengaja dan tanpa hak telah mendistribusikan atau mentransmisikan atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan atau pencemaran nama baik.

Terdakwa dengan menggunakan handphone merk Samsung tipe J16 warna putih dan handphone merk Oppo Tipe F11 warna Hijau telah mengirimkan foto dengan kalimat yang bermuatan penghinaan atau pencemaran nama baik terhadap saksi korban Pinktjoe Josielynn pada dua akun medsos miliknya yaitu pada Insta Story Instagram dan Cerita Facebook.

Pada Insta Story Instagram kiriman sebuah foto saksi korban Pinktjoe Josielynn yang sedang melakukan gym atau fitnes yang ditambahi kalimat pada foto tersebut dengan kalimat : “Ini janda yg uda membangunkan harimau yg lagi tidur lelap, dia jual lakik mana yg ga beli”.    

Pada Cerita Facebook, kiriman sebuah foto Saksi Korban Pinktjoe Josielynn yang sedang melakukan gym atau fitnes yang ditambahi kalimat pada foto tersebut dengan kalimat : “Ini janda yg uda membangunkan harimau yg lagi tidur lelap, dia jual lakik mana yg ga beli”

Kiriman sebuah foto terdapat Saksi Korban Pinktjoe Josielynn yang sedang melakukan gym atau fitnes yang ditambahi kalimat pada foto tersebut dengan kalimat : “Gempar medan seketika, ngapaen u cari ini cew, dah gempar mdan, dicariin binik org”.    

Bahwa perbuatan Terdakwa tersebut tanpa izin dari saksi korban Pinktjoe Josielynn, kemudian kiriman foto dan kalimat bermuatan penghinaan atau pencemaran nama baik yang dikirim oleh Terdakwa pada kedua akun medsos tersebut dapat dilihat/diakses oleh warga net atau masyarakat umum melalui akun media sosial Instagram dan Facebook khususnya yang melakukan pertemanan dengan Terdakwa pada kedua akun tersebut diantaranya Saksi Cu Santi, SE, Saksi Lenny dan Saksi Mery.

Akibat perbuatan Terdakwa sehingga Pinktjoe Josielynn merasa terhina, tercemar nama baiknya, tersinggung dan keberatan atas perbuatan Terdakwa tersebut.

Bahwa dari kronologis peristiwa yang dijelaskan sebelumnya bahwa postingan akun Facebook bernama Marianty Yen dan akun Instagram bernama yenstehvano milik Marianty adalah berisi foto seorang wanita dan informasi tentang wanita tersebut yang diketahui sebagai Pinkt Joe Josielynn alias Aphing. Dengan demikian, unsur penghinaan dan/atau pencemaran nama baik tersebut ditujukan kepada Pinkt Joe Josielynn alias Aphing.

Bahwa postingan pada akun Facebook bernama Marianty Yen dan akun Instagram bernama yenstehvano miliki Marianty yang mengandung unsur penghinaan dan/atau pencemaran berdampak negative kepada Pinkt Joe Josielynn alias Aphing. 

Dampak negatifnya antara lain merusak popularitas dan karir yang bersangkutan, menghambat kinerja yang bersangkutan, menyebabkan citra buruk kepada yang bersangkutan, mengganggu mental yang bersangkutan, orang lain akan kehilangan kepercayaan terhadapnya.

Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana melanggar Pasal 45 ayat (3) UU RI No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomot 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik. 

Setelah mendengar dakwaan dari JPU, salahsatu Majelis Hakim, menunda persidangan hingga pekan depan.(Sagal)

Share:
Komentar

Berita Terkini