Terkait Tewasnya Warga Gunting Saga Diduga Dianiaya Polisi,Kapolres Akui Tim Gabungan Tembak Korban

Dibaca:
Editor: dailysatu author photo


dilysatu.com -
Pasca aksi pemblokiran Jalan Lintas Sumatera yang dilakukan oleh warga Desa Gunting Saga, Kec. Walu Selatan, Kab. Labuhanbatu Utara karena ada salah satu warganya yang tewas diduga dianiayaan oleh pihak kepolisian beberapa waktu lalu.

Kapolres Labuhanbatu, AKBP Deny Kurniawan saat dikonfirmasi wartawan mengakui jika pihak kepolisian melakukan tembakan kepada ARM. 


Kapolres AKBP Deny Kurniawan menjelaskan, pada saat itu pihaknya memperoleh kabar kalau ARM berada disebuah bus menujuh ke Kota Medan.

"Kami mendapat Informasi jika ARM sedang berada dalam perjalanan menuju Medan dari arah pangaribuan. Kemudian kami bekerjasama dengan Polres Taput, untuk melakukan penyisiran di jalur tersebut. Lalu ARM berhasil kami dapatkan dan diamankan di Polsek Siborong - borong," jelas Kapolres.

Kemudian anggota dari Satreskrim Polres Labuhanbatu, bersama dengan Polsek, datang ke Polres Taput untuk menjemput ARM, yang mana video ARM sudah beredar. Video tersebut dibuat di Polsek Siborong-borong.

Kapolres mengatakan, bahwa telah dilakukan Interogasi terhadap ARM saat membawanya ke Aek Kanopan. Berdasarkan hasil Interogasi, didapatkan Informasi keberadaan A, rekan ARM yang lari ke daerah Kab. Asahan, tepatnya di Desa Padang Mahondang. Tim gabungan tiba di lokasi saat dini hari.

Kapolres beralasan setibanya dilokasi, ARM tidak melakukan kerjasama yang baik, dan beberapa kali ingin melepaskan diri meskipun dalam keadaan terborgol bersama petugas. Hal itu menyebabkan pergumulan kembali antara ARM dan petugas. ARM pun berusaha merebut senjata petugas, akhirnya dilakukan tembakan kearah kaki kanan ARM.

Namun saat ditanya apakah ada bukti rekaman video saat ARM melakukan perlawanan tersebut, kapolres mengatakan tidak memiliki bukti video tentang hal itu.

Saat wartawan menanyakan kembali perihal darah yang keluar dari telinga, mulut dan hidung korban, Kapolres juga menjawab, kita menunggu hasil autopsi yang semalam telah dilakukan, karena keluarga ARM juga merasa keberatan dengan kematiannya. Dengan difasilitasi Bupati Labura, maka Autopsi sudah dilakukan tadi malam di rumah sakit yang ada di Pematang Siantar.

Sementara itu, Armen Marpaung, Orang tua dari ARM, menjelaskan kepada wartawan adanya dugaan tindakan kekerasan yang menyebabkan meninggalnya ARM. Hal itu dijelaskan Armen dikediamannya pada, Minggu (27/09/2020).

Armen menjelaskan kondisi anaknya yang baru saja keluar dari rumah sakit forensik Pematang Siantar. "Anak saya mukanya memar, kepala lembut, dada lebam, tangan patah dan di paha kemungkinan ada luka tembak. Ditangannya juga ada lebam seperti terkena duri sawit.Dari telinga, mulut dan hidung ARM juga keluar darah segar," jelas Armen lagi.

Armen juga mengatakan, kalau ARM seperti mengalami penyiksaan dan tindak kekerasan, cuma karena dia tidak menyaksikan hal itu secara langsung, dia juga tidak bisa memastikan hal tersebut.

"Saya hanya meminta keadilan, seadil-adilnya menurut hukum yang berlaku di Indonesia ini. Saya juga mengharap agar pelaku yang menyebabkan anak saya seperti ini dihukum ataupun dipecat, agar tidak terulang lagi kejadian yang sama," pintanya.(Bima)

Share:
Komentar

Berita Terkini