TKI Asal Siantar Akan Dihukum Mati di Malaysia Orang Tua Surati jokowi

Dibaca:
Editor: dailysatu author photo
dailysatu.com - JS (33) seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara, ditangkap pihak kepolisian negara Malasyia.

Ia ditangkap setelah diduga membunuh majikannya pada tahun 2018 silam.

Orang tua JS yakni Asdin Sihotang dan isterinya menyurati Presiden Joko Widodo, memohon agar hukuman anaknya diberi keringanan. Anaknya, sebutnya, terancam hukuman mati oleh pengadilan setempat.

Ditemui di kediamannya di Jalan Damar Laut, Kecamatan Siantar Utara, Pematangsiantar, Asdin bercerita anaknya sudah 2 tahun menjalani proses persidangan di negeri jiran itu. "Langkah kami di awal meminta bantuan hukum dari Kedutaan Besar Indonesia di Malaysia, mereka mengutus kuasa hukum lokal untuk mendampingi kasus anak kami," ucap Asdin, Selasa (7/7/2020).

Sementara itu, Parluhutan Banjarnahor dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Siantar yang menjadi kuasa hukum JS, mengatakan hari ini sudah melayangkan surat permohonan keringanan pada Presiden Jokowi. "Tadi pagi di antar suratnya via pos. Surat permohonan keringanan hukuman yang sebelumnya ditolak Pemerintahan Malasyia melalui mahkamah peradilannya," katanya di kediaman Asdin.

Sesuai dengan informasi di tahun 2020, kata Parluhutan, kasus perkara JS akan segera divonis. "Di pengadilan tingkat pertama Malasyia menuntut dia (JS-red) dengan hukuman mati. Kasus ini akan segera putus hukuman matinya di tahun 2020 di tingkat akhir pengadilan," ucapnya.

Dikatakannya, JS melakukan itu akibat keterpaksaan karena hak nya mendapatkan gaji serta hak untuk mendapatkan hidup yang layak dari upahnya tidak dihargai oleh majikannya. "Berdasarkan itulah pihak keluarga menyurati Bapak Presiden Jokowi. Harapan pihak keluarga hukuman anaknya agar diringankan karena dia memiliki dua anak dan istri," kata dia.

"Dan ini harapan kita kepada Bapak Presiden Jokowi, antara Indonesia dengan Malasyia mempunyai hubungan bilateral yang baik. Hubungan kerjasama Bapak Jokowi dengan Perdana Menteri Malasyia ada hubungan khusus secara serumpun dengan Malasyia," harap Parluhutan.

Sekadar diketahui, JS diduga membunuh majikannya, Sia Seok Nee, warga Kilang Toto Food Trading, Kampung Selamat, Tasek Gelugor, Malasyia. Peristiwa itu bermula dari rasa kecewa dan sakit hati yang dirasakan JS dengan gaji yang tidak secara utuh ia terima selama setahun bekerja.

JS diketahui bekerja di pabrik pengolahan daging. Ia bersama istrinya, Asnawati boru Sijabat merantau ke Malasyia untuk meningkatkan kehidupan perekonomian keluarga mereka. Di awal bekerja JS mendapat upah sebesar 1600 - 1800 ringgit Malasyia.

Saat dirinya hendak pulang ke Indonesia untuk bertemu dengan pihak kelurga, JS dikabarkan hanya diberi upah dengan 900 ringgit Malasyia. Uang tersebut pun diberikan majikannya itu dengan melemparkan ke wajah JS. Melihat perlakuan itu, JS pun diduga emosi dan nekat membunuh majikannya dan melukai dua orang keluarga majikannya itu. ( Erwin Sinulingga)
Share:
Komentar

Berita Terkini