Ratusan Warga Taput Aksi Damai di Kantor Bupati Minta Pengusutan Gas Beracun

Dibaca:
Editor: Heri dailysatu author photo
Teks foto : Bupati Taput menerima aksi damai warga Desa Banuaji I,II dan IV, Kecamatan Adiankoting.
dailysatu.com - Warga dari Desa Banuaji I, II dan IV Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Tapanuli Utara (Taput) Sumatera Utara, Senin (17/2/2020), melakukan aksi damai di kantor Bupati Taput, menuntut agar pemerintah mengusut dugaan gas beracun H2S yang telah menelan korban jiwa.

Dalam aksi damai yang diikuti ratusan orang terdiri dari sejumlah emak-emak, turun ke halaman kantor Bupati dengan memegang sejumlah poster diantaranya  "Tutup PT SOL", bergambar sesosok jenazah yang tergeletak di persawahan.

Koordinator lapangan LSM Pencegahan Korupsi Anggaran Pemerintah RI PKAP RI, Donfri Sihombing, dalam orasinya meminta Pemkab Taput menindaklanjuti surat LSM PKAP RI yang sudah dilayangkan pada 9 Desember 2019 silam ke Dinas Lingkungan Hidup Taput.

Donfri Sihombing mengatakan, dari hasil pantauan mereka menemukan penyebaran diduga polusi gas beracun asam sulfit atau H2S di areal persawahan warga Desa Banuaji IV, Adiankoting.

Akibat semburan gas tersebut, diduga telah menyebabkan warga meninggal dunia saat berada di lahan persawahan.

"Kami duga, penyebab kematian salah seorang petani Banuaji IV Adiankoting bernama Sabungan Sinaga (67) pada tanggal 16 Mei 2019, adalah akibat polusi gas asam sulfit atau H2S," kata Donfri Sihombing kepada wartawan. 

Dijelaskannya, sesuai hasil investigasi LSM PKAP RI, juga telah menemukan kerusakan lahan seluas 130 hektar. Hal tersebut telah merembet ke tiga desa yakni desa Banuaji I, II dan desa Banuaji IV.

"Kita khawatir, semua ini adalah dampak kegiatan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP Sarulla) Geothermal, yang dikelola oleh PT SOL. Ini kita suarakan kepada Bupati agar menindaklanjuti temuan ini dan menurunkan ahli dalam bidang gas beracun " kata Donfri Sihombing.

Menjawab keluhan masyarakat terkait adanya gas beracun, Bupati menjelaskan, saat menerima laporan Kepala Desa Banuaji IV pada 21 Oktober 2019, keesokan harinya OPD terkait langsung turun meninjau lokasi dan mengambil sampel.

Selanjutnya dibawa ke laboratorium untuk diperiksa dan Tim ahli dari provinsi juga telah turun mengambil sampel. Mereka membenarkan adanya gas beracun pada lahan tersebut. Pihaknya juga telah komunikasi dengan PT SOL untuk turun ke lokasi dan menyatakan bahwa itu bukan dampak dari operasional PT SOL karena lokasi  tersebut jauh.

Bupati juga menghimbau agar masyarakat untuk sementara waktu tidak beraktifitas pada lokasi dimaksud demi menghindari kemungkinan hal tidak diinginkan yang berdampak buruk bagi kesehatan.

"Kita sudah surati Presiden RI dan Kementerian Lingkungan Hidup agar memberikan solusi terkait masalah ini. Sekarang kita akan mengirim surat kepada kementerian SDM dan WALHI agar memeriksa lokasi," ujar Bupati.

Bupati juga memerintahkan OPD terkait untuk mendata lahan yang berdampak tidak dapat ditanam untuk selanjutnya akan diberikan berupa bantuan sosial dan akan disediakan bibit tanaman bagi petani yang membutuhkan. (ds/Bisnur Sitompul)
Share:
Komentar

Berita Terkini