Gas Beracun Di Banuaji Adiankoting, Ini Penjelasan PT SOL

Dibaca:
Editor: Bang Romi author photo
Salahsatu lokasi PLTP Sarulla di Desa Simataniari, Kecamatan Pahae Julu, Taput. (Foto: Bisnur Sitompul)

dailysatu.com - Terkait aksi damai ratusan masyarakat ke kantor Bupati Tapanuli Utara (Taput), yang dilakukan masyarakat Desa Banuaji I,II dan IV, Kecamatan Adiankoting, Taput, Senin (17/2/2020), tentang polusi gas beracun atau H2S yang melanda desa tersebut, pihak Sarulla Operation Ltd (SOL) selaku pengelola Geothermal, Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Sarulla, memberikan keterangan persnya.

Dalam siaran persnya, SOL menjelaskan, telah berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Tapanuli Utara dan Kepolisian Resor Tapanuli Utara, terkait unjuk rasa atas nama masyarakat Desa Banuaji, perihal adanya gelembung cairan panas (fumarol) yang terjadi di Desa Banuaji IV, Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Taput.

Kepala Teknik Panas Bumi (KTPB) Sarulla Operations Ltd, Donny Tambunan mengatakan, fenomena fumarol atau keluarnya uap air dan gas (seperti karbon dioksida, belerang dioksida, asam klorida, dan hidrogen sulfida) ke permukaan, merupakan salah satu bentuk jenis-jenis manifestasi alam didalam sesar besar Sumatera yang memiliki tektonik aktif.

Desa Banuaji, berlokasi sekitar 10 km ke arah Barat Laut di atas hulu dari lokasi produksi PLTP Sarulla. Lokasinya cukup jauh dari wilayah operasional PLTP Sarulla dan Desa Banuaji juga tidak terkategori sebagai desa terdampak dalam AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) milik SOL.

"Sehingga dapat disimpulkan, bahwa apa yang terjadi di Desa Banuaji tidak terkait dengan kegiatan operasional SOL," jelas Donny Tambunan. (ds/Bisnur Sitompul)


Share:
Komentar

Berita Terkini