Sidang OTT Eldin, Sebelum Jepang Tujuan Awal ke Amerika

Dibaca:
Editor: Heri dailysatu author photo
dailysatu.com - Terungkap fakta baru dalam persidangan lanjutan Kasus OTT suap Walikota Medan non aktif Dzulmi Eldin, dengan terdakwa Kepala Dinas PUPR Kota Medan, Isa Ansyari dalam persidangan yang berlangsung diruang Cakra 1, Pengadilan Tipikor Medan, Kamis (16/01/2020).

Dari keterangan saksi, yang juga kepala  Dispenda Medan Suherman, terungkap fakta baru dalam perjalanan dinas Walikota Medan keluar negeri. Semula rencananya berangkat ke Amerika, makanya waktu itu ia memberikan uang Rp140 juta dalam dua kali pembayaran Rp110 juta dan Rp30 juta, itu untuk pengurusan Visa. Sedangkan uang Rp80 juta yang diberikan itu untuk kegiatan operasional dinas walikota Medan, dengan empat kali pembayaran, dari setiap pembayaran sebesar Rp20 juta.

Masih dalam kesaksian di persidangan, Ketua Majelis Hakim Tipikor pun lanjut mempertanyakan apakah terlaksana berangkat ke Amerika.

"Nah kalau tak jadi, apakah uang yang tadi diserahkan apakah dialihkan perjalanan ke Ichikawa, Jepang dalam rangka sister city?," Tanya Hakim lagi.

Dan lagi-lagi Suherman menjawab tidak tahu. "Tidak tahu yang Mulia," jawabnya.

Tapi ia mengakui ada ikut rombongan ke Ichikawa Jepang bersama Iswar dan Asisten Pemerintah Pemkot Medan, Musadad.

Pernyataan pemberian uang juga diakui Kadis Ketahanan Pangan Pemko Medan, Emilia Lubis. Dia menerangkan, ada memberikan uang sebanyak Rp 20 juta, dalam dua kali pembayaran pertama pembayaran Rp10 juta untuk ke Jepang dan Rp10 juta untuk biaya operasional ke Tarakan dalam rangka menghadiri acara Apeksi.

Sementara, dari keterangan Saksi lainnya diperseidangan, diduga menghindari penyetoran uang dalam menutupi biaya perjalanan Dinas ke Jepang, maka uang yang berasal dari Kadis PUPR Isa Ansyari ditransfer sebesar Rp200 Juta ke rekening BCA milik Mahyudi yang merupakan orang tua dari Aidil Syahputra.

Dalam penuturan, Aidil berdalih selama ini ia selalu memakai rekening orang tuanya untuk penerimaan gaji, Dan penuturan itupun diamini oleh Mahyudi.

Namun hakim kurang yakin dan kemudian menanyakan apakah uang gaji juga disetorkan ke rekening milik Mahyudi. Spontan Aidil menyatakan, ada rekening sendiri ke Bank Sumut.

Didalam sidang, Mahyudi mengaku kaget ada transferan uang Rp200 juta, namun Aidil tidak menjelaskan uang itu untuk apa akan tetapi hanya menyuruh agar dicairkan setelah transfer selesai.

Selanjutnya, Aidil pun menyampaikan kepada Syamsul Fitri, uang untuk menutup biaya perjalanan dinas ke Jepang sudah ditransfer. Kemudian ditindaklanjuti dengan memerintahkan Egy Harefa dan Taufik untuk mengambil uang tersebut.

Namun lagi-lagi dalam persidangan itu, Syamsul Fitri menyuruh keduanya mengambil paket ke rumah Mahyudi. Dan keduanya pun mengikuti arahan dari Syamsul.

Setelah paket diambil kemudian diserahkan kepada Juliarta atau Tata kemudian ke Sultan dan kemudian disimpan di bilik Kabinet Sekretariat Pemko Medan.(ds/lilik)
Share:
Komentar

Berita Terkini