Kajari Gunungsitoli Dinilai Tidak Bernyali Menyeret Koruptor

/

/ Kamis, 28 November 2019 / 20.13 WIB
dailysatu.com - Puluhan massa DPW LSM Gerakan Muda Peduli Tahah Air (Gempita) Nias, Sumatera Utara, melakukan aksi demonstrasi di depan gedung Kejaksaan Negeri Gunungsitoli, Kamis (28/11/2019) sore.

Aksi itu mereka lakukan karena menilai Kajari Gunungsitoli, Futin Helena SH, MH, lemah dalam menuntaskan sederet dugaan kasus korupsi yang selama ini menjadi perhatian publik.

Datang dengan membawa spanduk dan poster bertuliskan tuntutannya, massa Gempita melakukan orasi di depan gedung Kejaksaan Negeri Gunungsitoli, Jalan Soekarno, Kelurahan Pasar Gunungsitoli, Kecamatan Gunungsitoli.
Bukan hanya spanduk dan poster, massa juga membawa tumpukan es balok sebagai tanda bahwa Kajari Gunungsitoli memetieskan sederet dugaan kasus korupsi di Pulau Nias.

Demonstrasi sempat memanas, saat massa memaksa masuk ke dalam gedung dengan menggoyang bahkan menendang pintu pagar Kejaksaan. Beruntung pihak Kepolisian yang berjaga dapat mendinginkan situasi.

Dalam orasinya, massa mendesak Kajari Gunungsitoli segera mengusut tuntas kasus korupsi pengadaan bibit karet Dinas Pertanian Kabupaten Nias TA 2016 yang telah merugikan negara sebesar Rp. 580.000.000 dari nilai pagu proyek Rp. 2.040.000.000.
"Memang sudah ada dua orang menjadi terdakwa bahkan di vonis dalam kasus korupsi itu. Namun bagaimana terduga lain yang belum tersentuh hukum, termasum mantan anggota DPRD Kabupaten Nias Notarius Mendrofa. Jangan karena mereka menang prapid di Pengadilan Negeri Gunungsitoli, Kajari jadi pengecut", teriak demonstran.

Ditemui dailysatu.com, Ketua DPW LSM Gempita Gunungsitoli, Sabarman Zalukhu, mengatakan jika ada empat tuntutan yang mereka sampaikan dalam aksi demonstrasi tersebut kepada Kajari Gunungsitoli.

Diantaranya adalah, korupsi pengadaan bibit karet Dinas Pertanian Kabupaten Nias TA 2016, pekerjaan pembangunan unit sekolah baru (USB) sekolah luar biasa (SLB) Kabupaten Nias Barat, penyelewengan dana desa, serta adanya desa fiktif yang belakangan menjadi sorotan.

"Kami mendesak Kajari Gunungsitoli menetapkan tersangka baru, dan melimpahkan berkas ST ke Pengadilan Negeri Gunungsitoli terkait kasus korupsi bibit karet. Kami juga meminta Kajari segera menetapkan tersangka atas dugaan kasus pembangunan gedung USB SLB Nias Barat bernilai 2 miliar, dugaan penyimpangan dana desa, serta dugaan desa fiktif yang sedang bergulir" ujar Sabarman.

Jika empat tuntutan diatas tidak dipenuhi Kajari, lanjut Sabarman, maka massa Gempita akan kemabali turun ke jalan dengan jumlah massa yang lebih banyak.

"Sejak dilantik April 2018, belum ada satupun kasus korupsi yang mampu diungkap oleh Futin Helena. Dia hanya bisa duduk di kursi empuk dalam ruangan AC. Bagaimana bisa ada produk seorang Kajari seperti ini, tak punya bernyali. Pasca sidang prapid di Pengadilan Negeri Gunungsitoli, penyidik langsung menerbitkan Sprindik baru untuk meneruskan kasus korupsi bibit karet. Tapi Futin seakan tidak sejalan dengan penyidiknya sendiri, bahkan terkesan ada niatnya menghentikan kasus tersebut", pungkas Sabarman.

Aksi demonstrasi massa Gempita disambut oleh Kasi Pidum, Alexander Siagian. Dalam penjelasannya, Kasi Pidum menyampaikan bahwa Kajari berserta Kasi Pidsus sedang berada di Medan dalam rangka perjalanan dinas.

"Ibu Kajari sedang di luar daerah, begitupun Kasi Pidsus. Dengan kerendahan hati yang menerima kedatangan teman-teman saya. Kalau kita audiensi terkait tuntutan orasi, saya rasa bukan ranah dan kewenangan saya, jadi saya minta maaf", kata Alexander. (ds/Ris)
Komentar Anda

Berita Terkini