Kabut Asap Kepung Wilayah Taput Warga Diimbau Waspada

/

/ Senin, 23 September 2019 / 17.17 WIB
Teks foto : Kondisi Kota Tarutung sekitarnya dipenuhi kabut asap akibat Karhutla. (ds/Bisnur Sitompul)
dailysatu.com - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di sejumlah daerah di pulau Sumatera, saat ini dampaknya mulai terasa ke wilayah Kabupaten Tapanuli Utara (Taput), Sumatera Utara.

Pantauan dailysatu.com, Senin (23/9/2019), di pusat kota Tarutung atau lebih dikenal dengan sebutan "Rura Silindung", kabut asap begitu pekat di langit wilayah Taput terlihat menutupi seluruh pegunungan. Bahkan, langit yang tadinya cerah dan bersih berubah menjadi gelap dan agak berwarna kuning. Kejadian kabut asap telah berlangsung sekitar dua minggu di Taput.

Melihat pekatnya kabut asap di sejumlah wilayah Taput, diduga asap tersebut merupakan kiriman akibat karhutla yang terjadi di sejumlah daerah di Provinsi Riau dan Jambi sehingga terbawa angin ke daerah Taput, karena letak geografis Kabupaten Taput dan Provinsi Riau tidak begitu jauh.

BACA | Medan Tercemar Kabut Asap

Mengantisipasi kabut asap kiriman itu, sejumlah warga memilih untuk menggunakan masker saat beraktifitas atau bekerja di luar. Ada juga memilih mengurangi kegiatan di luar rumah karena sejumlah warga mulai merasakan sesak nafas karena kualitas udara cukup berbahaya.

Menyikapi kabut asap ini, Bupati melalui Pj Sekda Taput, Parsaoran Hutagalung, telah mengeluarkan surat himbauan bahaya kabut asap.

Dalam suratnya, Parsaoran Hutagalung mengimbau masyarakat agar menunda atau tidak melaksanakan kegiatan ekstrakulikuler serta olah raga di luar ruangan selama kondisi cuaca belum membaik akibat kabut asap.

Bila melakukan aktifitas di luar ruangan agar masyarakat menggunakan masker. Apabila masyarakat mengalami gangguan pernafasan agar segera dibawa ke fasilitas kesehatan.

Seorang warga, Oppung Jubel Hutauruk (67) mengatakan, akibat asap ini, ia mengaku sudah mulai batuk-batuk dan agak sulit bernafas. Ia berharap agar Pemerintah dan instansi terkait segera dapat mengatasi kabut asap ini.

"Saya juga sudah mulai merasakan batuk dan gangguan pernafasan. Ini mungkin karena asap yang sebelumnya belum pernah terjadi begitu pekat," ujar Oppung Jubel Hutauruk.

Warga lain, Hasiholan Siregar meminta pemerintah dan instansi berkompeten agar secepatnya mengantisipasi kabut asap ini.

"Saya cukup khawatir akibat kabut asap ini. Terutama anak-anak yang masih bersekolah menghirup udara cukup berbahaya. Saya berharap pemerintah dapat mengantisipasi dan memberikan bantuan medis kepada warga yang terpapar asap," kata Hasiholan Siregar. (ds/Bisnur Sitompul)
Komentar Anda

Berita Terkini