Polisi Tetapkan Tersangka Pembunuhan Kristina Gultom Ini Penjelasan Kapolres Taput

/

/ Jumat, 09 Agustus 2019 / 11.31 WIB
Foto: Kapolres Taput AKBP Horas M Silaen MPsi, Kasat Reskrim dan Kasubbag Humas saat press rilis kasus pembunuhan Kristina Gultom (ds/Bisnur Sitompul)


dailysatu.com
 - Kepolisian Resor Tapanuli Utara (Polres Taput), Sumut, menetapkan Rinto Hutapea (36) warga Dusun Pangguan Desa Hutapea Banuarea Kecamatan Tarutung, sebagai tersangka pembunuhan terhadap Kristina Gultom (20) warga Dusun Pangguan Desa Hutapea Banuarea Kecamatan Tarutung, seorang pelajar SMK Karya Tarutung, yang mayatnya ditemukan Minggu (4/8/2019), di Perladangan Sitolu-tolu Dusun Pangguan Desa Hutapea Banuarea Kecamatan Tarutung Kabupaten Taput.

Penetapan tersangka tersebut diungkapkan dalam konferensi pers oleh Kapolres Taput AKBP Horas M Silaen MPsi, didampingi oleh Kasat Reskrim AKP Zulkarnain, Kasubbag Humas Aiptu Sutomo M Simare-mare dan sejumlah personil di Mapolres Taput, Jumat (9/8/2019).

Kapolres Taput AKBP Horas M Silaen MPsi dalam penjelasannya menyebut, pada Minggu (4/8/2019) sekira pukul 17.00 Wib korban Kristina Gultom melintas di perladangan Sitolu-tolu menuju Dusun Pamgguan Desa Hutapea Banuarea Kecamatan Tarutung.

Tidak lama kemudian, tersangka Rinto Hutapea melintas mengendarai motor Suzuki Smash dan saat itu menyapa korban sambil mengajaknya karena tujuan mereka sama untuk pulang ke rumah.

Namun saat itu korban menolak dan memaki-maki tersangka. Korban juga meludahi wajah tersangka sambil mengucapkan kata-kata kotor. Tidak terima perlakukan korban, Tersangka yang emosi lalu mengejar korban. Sekira 10 meter, tersangka menangkap korban yang lari ke arah perladangan.

Disitu korban terjatuh sehingga  tersangka meluapkan emosinya dengan memukul bagian wajah dan bibirnya. Korban sempat menjerit minta tolong sambil merangkak menyelamatkan diri. Karena korban terus berteriak minta tolong, Tersangka kembali memukuli  korban sambil memegang kedua tangannya.

Tersangka lalu menyeret tubuh korban yang mulai lemas sejauh 10 meter. Selanjutnya, tersangka mencekik leher korban menggunakan tangan kanan selama 15 menit sehingga mata korban mengeluarkan air mata dan hidung korban mengeluarkan darah dan cairan hitam.

Melihat korban sudah tidak bergerak lagi, tersangka mengambil hp merek nokia milik korban dan membuangnya ke semak-semak. Kemudian tersangka merogoh kantong celana korban dan mengambil uang pecahan Rp 5000. Tersangka juga merogoh kantong celana korban mengambil botol minyak kayu putih dan membuangnya di sema-semak.

Selanjutnya, tersangka kembali menyeret tubuh korban sejauh 50 meter dengan maksud untuk menyembunyikan tubuh korban. Lalu pakaian korban dibuka oleh tersangka karena tergulung akibat diseret. Tubuh korban yang telanjang kemudian ditutupi tersangka menggunakan baju korban dengan posisi telungkup dan langsung meninggalkannya di bawah pohon bambu.

"Modus tersangka membunuh korban, karena tersangka emosi setelah dimaki-maki dan diludahi oleh korban," ujar AKBP Horas M Silaen MPsi.

Untuk pasal yang dipersangkakan, lanjut AKBP Horas M Silaen MPsi, tersangka dijerat dengan pasal 338 KUHPidana (Dengan sengaja menghilangkan nyawa orang lain) dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara dan pasal 365 ayat (3) (Pencurian dengan kekerasan yang disertai dengan pembunuhan) dengan ancaman hukuman 12 tahun penjara.

Barang bukti yang disita berupa 1 helai baju kaos oblong warna merah, 1 helai tangtop warna merah, 1 buah short/celana pendek warna hitam, 1 buah celana dalam, 1 buah celana panjang jeans warna biru, 1 buah BH, 1 pasang sepatu, 1 botol minyak kayu putih, uang Rp 5000 dan 1 unit sepeda motor merek Suzuki Smash warna biru. Sementara 1 unit hp merek Nokia warna biru milik korban masih dalam pencarian.

Untuk tindakan selanjutnya dalam rangka penyidikan, tersangka telah ditahan di Polres Taput. Hasil otopsi masih menunggu dari RSU Djasamen Saragih Pematang Siantar. Pemeriksaan barang bukti dan sampel masih dilakukan di Laboratorium Forensik Cabang Medan.

Penyidik juga telah mengambil sampel darah tersangka untuk dilakukan pemeriksaan DNA ke Pusdokkes Mabes Polri untuk memastikan apakah korban ada dilakukan persetubuhan atau tidak. (ds/Bisnur Sitompul)
Komentar Anda

Berita Terkini