Harga sawit anjlok dan inflasi tinggi, buat hidup masyarakat SUMUT semakin susah

/

/ Senin, 05 Agustus 2019 / 19.28 WIB


Laju tekanan inflasi SUMUT yang mencapai 5.21% selama tahun berjalan 2019 (januari – juli) sangat memukul daya beli masyarakat SUMUT. Bayangkan dengan inflasi sebesar itu, maka bisa diterjemahkan bahwa rata-rata masyarakat SUMUT harus mengeluarkan biaya tambahan sekitar 5% dari pengeluaran hariannya.


Artinya begini, bila inflasi selama tahun berjalan sebesar 5%, maka bila ada rumah tangga yang biasanya menghabiskan anggara sebesar 1 juta per bulan untuk memenuhi biaya harian. Maka dengan inflasi sebesar itu pengeluaran masyarakat nambah 50 ribu. Artinya total pengeluaran yang dibutuhkan itu menjadi 1.050.000 (satu juta lima pulkuh ribu rupiah).


Tambahan pengeluaran sebesar 50 ribu ini jelas membebani pengeluaran masyarakat di SUMUT. Ditambah lagi, pemasukan masyarakat SUMUT pada umumnya mengalami penurunan. Ini bisa tergambar dari tren harga sawit di tingkat masyarakat yang belakangan anjlok. Bayangkan harga CPO di bulan januari yang sempat menyentuh 2200 ringgit per ton, saat ini sawit dijual dikisaran 2.000 ringgit per tonnya.



Bahkan di bulan maret maupun juli harga CPO dunia sempat terpuruk hingga ke level 1800-an ringgit per ton. Artinya jika sekitar 60% lebih ekonomi SUMUT banyak ditopang dari sawit, maka penurunan harga sawit ini jelas menekan daya beli masyarakat kita. Karena apa?, harga anjlok, sudah pasti pemasukan masyarakat berkurang disitu.



Harga sawit memang sempat terpuruk setelah perang dagang antara Cina dan AS mencapai titik nadir di bulan November tahun kemarin. Saat itu harga CPO diperdagangkan di level 1.755 ringgit per ton, dan sawit di tingkat petani sempat dijual dikisaran 500 hingga 700 per Kg. Saat ini harga sawit juga masih tidak jauh beranjak dari harga tersebut di tingkat petani.



Masih dikisaran 700-an per kg di tingkat petani. Padahal harga break even (harga balik modal)-nya itu dikisaran 1200-an. Nah kesimpulannya adalah disaat harga sawit terpuruk ke 700 an per Kg, jelas pendapatan masyarakat SUMUT mengalami penurunan. Dan disaat itu pula, pengeluaran masyarakat SUMUT bertambah sebesar 5% selama tahun berjalan diakibatkan inflasi.



Kalau sawit harganya sangat dipengaruhi faktor global yang sulit bagi kita untuk mengendalikannya. Sementara inflasi cenderung karena ketidakberhasilan Pemerintah Daerah SUMUT dalam mengendalikan harga pangan masyarakat. Jadi masyarakat terkena pukulan ganda dari sisi daya belinya. Daya belinya anjlok karena pemasukan tidak mengalami kenaikan, ditambah dengan pengeluaran yang semakin besar.



Kesimpulannya adalah, masyarakat SUMUT saat ini tengah terbebani ekonominya. Bisa disimpulkan kondisi ekonomi masyarakatnya kian terpuruk. Hidupnya semakin susah. (**)



Komentar Anda

Berita Terkini