Sabar S Sitepu : Pisau Cukur Tukang Pangkas Bisa Tularkan Virus HIV dan AIDS

/

/ Rabu, 06 Maret 2019 / 16.53 WIB

dailysatu.com - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Medan H.Sabar Syamsurya Sitepu SI.Kom mengingat kepada, masyarakat untuk berhati-hati jika cukur rambut di tukang pangkas.

Karena pisau silet yang digunakan tukang pangkas, untuk mencukur bisa menularkan virus Human Immunodeficiency Virus, Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV dan AIDS)

Jadi kata dia, kalau pangkas mintalah pisau siletnya yang baru, karena jika pisau bekas bisa berbahaya. Jika orang yang dipangkas sebelumnya terkena penyakit HIV dan AIDS, maka virusnya bisa tertular ke kita, karena penularan virus ini hanya ada dua yakni melalui darah dan seperma.

 Hal ini dikatakan H.Sabar Syamsurya Sitepu S.Kom dalam Sosialisasi ke I Tahun 2019 Peraturan Daerah (Perda) No I tahun 2012,  tentang pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS di Jalan Rawa Cangkuk Bongkar III Kelurahan Tegal Sari Mandala III Kecamatan Medan Denai baru-baru ini.

 "Orang baik-baik seperti dokter dan ustadz sekalipun bisa tertular virus ini, jadi diingat kepada kita semua agar berhati-hati jika pangkas, mintalah pisau cukurnya  yang baru, atau kalau perlu bawa sendiri pisaunya, sehingga akan lebih aman,"ungkap Sabar.

Sebab lanjut Sabar, biasanya korban penyakit ini selalu tertutup, akibat tertutup ini bisa menular ke tempat lain,  dan ketika dia pangkas, virus yang ada ditubuhnya bisa menempel di pisau cukurnya, dan apabila pisau tersebut masih digunakan ke orang lain, maka orang tersebutpun akan dapat tertular, itulah dahsyat virus HIV dan AIDS ini.

Hadir dalam sosialisasi tersebut, antara lain Lurah Tegalsari Mandala III Zainal Abidin, Camat Medan Denai Hendra Asmilan, Pengelola HIV dan AIDS yangDinas Kesehatan (Dinkes) Kota Medan yakni Dr Musdalifa, Imelda SKM serta dihadiri ratusan masyarakat dari Kecamatan Medan Denai, Medan Area, Medan Kota dan Medan Amplas.

Sementara itu Pengelola HIV dan AIDS Dinkes Kota Medan Imelda SKM, mengaku prihatin terhadap perkembangan HIV/AIDS di Kota Medan, dimana data terakhir yang dihimpun baik pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) maupun konseling, HIV dan AIDS di kota Medan mencapai 4700 kasus dengan usia antara 15 sampai 35 tahun.Ini semua terjadi akibat pergaulan bebas. "Dari angka ini menunjukkan Orang Hidup dengan HIV dan AIDS (ODHA) ini terus mengalami peningkatan,"ujar Imelda.

Dikatakannya, ada dua cara penularan HIV dan AIDS, yakni melalui cairan darah dan cairan sperma, jadi sangat dianjurkan bagi yang kerap berganti-ganti pasangan, untuk memakai alat kontrasepsi (kondom) sebagai alat pengaman, katanya.

 Tidak hanya itu, lanjutnya perlakuan seks menyimpang seperti suka dengan teman sejenis atau Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) atau istilah kami Lelaki Seks Lelaki (LSL)

 Dikatakannya, bagi pasangan muda/mudi yang akan menikah juga wajib periksa HIV dan AIDS, demikian juga terhadap ibu hamil dianjurkan untuk memeriksakan HIV dan AIDS karena dikhawatirkan anak yang didalam kandungan tertular virus HIV/AIDS.   
 "Jadi untuk pencegahannya, pendekatanya iman harus ditingkatkan, setia kepada pasangan, tidak melakukan perlakuan seks menyimpang, dan yang penting masyarakat harus memperlakukan secara adil dan manusiawi setiap 0DHA," imbuhnya.

 Sementara itu Camat Medan Denai Hendra Asmilan mengatakan, dengan disosialisakannya Perda No 1 tahun 2012 ini dapat mempertebal pengetahuan masyarakat, untuk dapat lebih memahami bahaya penyakit HIV dan AIDS ini.Minimal untuk diri dan keluarga.

Perda No 1 tahun 2012 tentang pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS ini sendiri terdiri XII BAB dan 36 Pasal. Dalam BAB VI masalah pembinaan pengawasan dan koordinasi. Walikota atau pejabat yang dihunjuk harus melakukan pembinaan terhadap semua kegiatan yang berkaitan dengan pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS.

Sementara BAB VII soal larangan, dalam Pasal 31 disebutkan setiap orang yang mengetahui dirinya terinfeksi HIV dan AIDS dilarang melakukan seksual dengan dengan orang lain. Setiap orang atau institusi dilarang melakukan diskriminasi terhadap orang yang diduga terinfeksi HIV dan AIDS.

 Sama halnya, BAB X soal sanksi. Dalam pasal 34 ayat 1 disebutkan Walikota berwenang menjatuhkan sanksi administrasi terhadap orang, lembaga dan instasi yang melakukan pelanggaran terhadap Perda. Dalam ayat 2 disebut terhadap PNS yang lalai dalam tugasnya diberikan sanksi pencopotan jabatan atau tunda kenaikan pangkat.

Begitu juga dalam BAB XI tetang ketentuan Pidana. Dalam pasal 35 ayat 1 dinyatakan, setiap orang yang melanggar ketentuan dapat dipidana kurungan paling lama 6 bulan atau denda paling banyak Rp50 juta.(ds/Lilik)
Komentar Anda

Berita Terkini