Dinas Pariwisata Medan Awasi Panti Pijat BlowArt

/

/ Jumat, 11 Januari 2019 / 18.36 WIB
Tim Binwasdal Dinas Pariwisata Medan saat melakukan pemeriksaan kamar yang ada di panti pijat BlowArt yang terletak di Jl. Pare No. 7 Kel. Darat Kec. Medan Baru 

dailysatu.com
- Dugaan dijadikannya panti pijat BlowArt yang terletak di Jl. Pare No. 7 Kel. Darat Kec. Medan Baru sebagai lokasi prostitusi berdasarkan hasil sidak anggota Komisi C DPRD Medan, Jangga Siregar pada Rabu 9 Januari 2019 kemarin,Dinas Pariwisata Medan langsung turun ke panti pijat BlowArt.

Dalam peryataan resmi Kepala Dinas Pariwisata Medan, Agus Suriyono yang dikutip dailysatu.com, dari halaman facebook Dinas Pariwisata Medan, Jumat 11 Januari 2019 tertulis Kepala Dinas Pariwisata Kota Medan Agus Suriyono langsung menerbitkan Surat Perintah Tugas kepada Tim Binwasdal untuk melakukan pemeriksaan tentang operasional panti pijat tersebut.

Tim Binwasdal telah mendapatkan data riil di lapangan yang berkenaan dengan informasi yang disampaikan dan menuangkan ke dalam BAP untuk ditindaklanjuti sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Medan menjelaskan bahwa Dinas Pariwisata Kota Medan akan lebih responship dan akan menindak tegas setiap adanya pelanggaran dengan mengambil langkah-langkah pembinaan, pengawasan dan pengendalian usaha pariwisata sesuai Peraturan Daerah no 4 tahun 2014 tentang Kepariwisataan dan Peraturan Walikota Medan No. 29 tahun 2014 tentang Daftar Usaha Pariwisata.

Tindakan selanjutnya akan dikordinasikan dengan OPD Pemerintah Kota Medan yang terkait.

Selanjutnya, Kepala Dinas Pariwisata Kota Medan mengucapkan terimakasih atas laporan yang disampaikan, sehingga dapat ditindaklanjuti sesuai peraturan dan ketentuan yang berlaku.

Diberitakan sebelumnya Anggota Komisi C DPRD Medan, Jangga Siregar mendesak Dinas Pariwisata Medan untuk mencabut izin operasional panti pijat tradisional BlowArt yang terletak di Jalan Pare Nomor 7 Kelurahan Darat Kecamatan Medan Baru.

Sebab, berdasarkan hasil sidak yang dilakukannya ke lokasi tersebut, Rabu 9 Januari 2019 diduga panti pijat Blowart 'melenceng' melakukan bisnis prostitusi.

“Tutup saja operasionalnya, kita mendesak Dinas Pariwisata segera menutupnya.Kita tak mau Medan menjadi tempat hal-hal seperti itu, "tegasnya kepada wartawan Kamis 10 Januari 2018 di ruang kerjanya.

Kata politisi Partai Hanura itu dugaan adanya praktek prostitusi terselubung di panti pijat BlowArt  itu 'tercium' ketika ia beserta staf dan beberapa wartawan masuk ke dalam ruangan yang disambut receptionis bermarga Nainggolan menawarkan 'paket' kepadanya.

"Mereka menawarkan paket pijat vitalitas pria dengan harga yang bervariasi. Kalau mau 'blowjob', konsumen harus menambahkan Rp300 ribu," bebernya.

Sontak tawaran tersebut mengejutkan seluruh personil yang ikut sidak. Dan tak ingin berpanjang lebar, Ketua DPC Pemuda Islam Kota Medan ini memanggil manajemen. Lagi-lagi pihak manajemen kelabakan menjelaskan seluruh pertanyaan yang diajukan anggota DPRD Medan dan para awak media.

"Kita menyayangkan di Kota Medan yang tengah dibangun Wali Kota Medan Dzulmi Eldin dengan brand Medan Rumah Kita yang religius harus ternodai oleh pengusaha yang ingin mengeruk keuntungan secara ilegal. Kita minta Dinas Pariwisata menutup usaha ini dan akan kita panggil juga pihak terkait dalam waktu dekat agar di RDP (Rapat Dengar Pendapat)-kan," katanya.

Lebih mencurigakannya lagi, sambung Jangga, pada saat sidak itu seorang bernama Jul Siregar yang mengaku Manager BlowArt tidak mampu menunjukkan izin usaha tersebut.

"Dari surat izin yang kita lihat sewaktu sidak, Rabu (9/1) kemarin, izinnya panti pijat tradisional. Tapi ketika kita minta tunjukkan kamar dan alat-alat yang mereka gunakan saat mempraktekkan apakah sesuai, pengawas BlowArt Jul Siregar menolak untuk mengatarkan. Alasannya tidak ada izin dari atasanya. Ada apa ini? Berarti ada yang mencurigakan dalam prakteknya," tandasnya.

Jangga juga tidak mau Dinas Pariwista hanya memberikan peringatan saja terhadap pemilik usaha.

“Jangan sampai ini hanya diberikan peringatan saja, dengan alibi sumber PAD. Pertanyaannya PAD apa seperti ini,” katanya.

“Razia jangan sekedar razia. Karena banyak kasus razia sekedar razia pada akhirnya razia ada oknum bermain di sana. Jangan sampai demikian, sebelum kesabaran masyarakat tidak terkendali,” pungkasnya.(ds/romisyah)
Komentar Anda

Berita Terkini