250 Ribu Pecandu dan 22 Ribu Napi Masih Terbelenggu Jeratan Narkoba di Sumut

/

/ Rabu, 30 Januari 2019 / 21.08 WIB

dailysatu.com-Provinsi Sumatera Utara (Sumut ) merupakan peringkat kedua tertinggi  setelah Jakarta dalam pusaran arus bisnis penyalahgunaan narkoba di lingkup Nasional. Hal itu dikatakan  Kepala BNNP Sumut Brigjen Pol Marsauli Siregar didampingi Kabid Pemberantasan AKBP Agus Halimudin ketika Ngobrol Santai (Ngobras) dengan wartawan di media center Mapolrestabes Medan, Rabu (30/1/2019).


Disebutkannya, peringkat tertinggi kedua setelah Jakarta itu tak lepas dari adanya 250 ribu lebih pecandu yang masih terbelenggu jerat narkoba di wilayah Sumut berdasarkan data yang dikumpulkan BNNP Sumut dari hasil monitoring hingga sampai saat ini.


Dari jumlah 250 ribu orang lebih pencandu narkoba tersebut hanya sebatas pecandu yang berhasil terdata di sepenjuru wilayah Sumut, dan diperkirakan memiliki jumlah lebih besar dari banyak yang tidak terdata. Ditambah lagi fakta lain yakni 2/3 dari 22 ribu jumlah seluruh napi di wilayah Sumut merupakan para pelaku kasus narkoba yang juga diyakini masih berurusan dengan narkoba meski di dalam tahanan.


"Sumut merupakan peringkat tertinggi kedua kasus penyalahgunaan narkoba setelah Jakarta dalam lingkup nasional. Tak lepas dari data adanya sebanyak 250 ribu pencandu ditambah 2/3 dari 22 ribu jumlah keseluruhan napi di Sumut terjerat kasus narkoba dan diyakini masih erat berkaitan dengan masalah narkoba meskipun berada di dalam tahanan," ujar Marsauli.


Dipenghujung masa jabatannya sebagai Kepala BNNP Sumut Brigjen Pol Marsauli Siregar menyimpulkan ada dua "Kutub" muara dari permasalahan narkoba yang sedang dihadapi bersama-sama tak hanya di Sumut namun di seluruh penjuru negeri.


Marsauli menjelaskan, Dua Kutub yang juga harus ditangani dengan dua metode berbeda tersebut yaitu yang Pertama adalah menyangkut segala macam carut marut dalam proses penyelundupan dan peredaran narkoba yang kemudian di pasarkan ke seluruh penjuru negeri.


Kutub kedua yang dimaksud, dikatakan Marsauli Siregar yaitu permasalahan tentang upaya penanggulangan beragam dampak yang diakibatkan penyalahgunaan narkoba di berbagai sisi kehidupan yang semakin banyak menjerumuskan anak bangsa hingga saat ini.


"Ada dua Kutub yang muncul dari persoalan narkoba yang sedang kita hadapi bersama saat ini. Pertama soal carutmarut proses suplay baik penyelundupan, peredaran hingga seperti apa narkoba itu dipasarkan ke penjuru negeri. Yang kedua mengenai upaya penanganan dan penanggulanan dari dampak penyalahgunaan narkoba yang banyak mejerat generasi bangsa menjadi korban, dua Kutub ini juga harus ditangani dengan cara yang berbeda," jelasnya.


Menurutnya, segala macam upaya telah dilakukan banyak pihak dalam struktur aparatur negara khususnya instansi penegak hukum baik BNN, Polri, maupun instansi terkait lain dalam memangani dua Kutub permasalahan narkoba tersebut. Namun tentunya masih banyak yang harus dilakukan seluruh elemen bangsa demi memberantas narkoba dengan Sinergitas yang jauh lebih efektif sesuai fungsinya masing-masing.


"Dari dua Kutub persoalan tentang narkoba itu tentu kita perlu terus melakukan cara penanganan yang dirasa lebih efektif. Sudah banyak metode yang dilakukan semua pihak baik pencegahan sejak dini melalui modul kurikulum pendidikan dari bangku sekolah dasar sampai dengan penganan korban-korban penyalahgunaan narkoba yang masih terus dikbangkan. Satu hal yang memang sangat penting untuk jauh lebih ditingkatkan yaitu Sinergitas," pungkasnya. (ds/woe)
Komentar Anda

Berita Terkini