Pembangunan Tanggul di Belawan Harus Disegerakan

/

/ Selasa, 14 Agustus 2018 / 20.37 WIB
Anggota DPRD Medan, HT Bahrumsyah dan Surianto (Butong) /kolase

dailysatu.com- Jebolnya tanggul akibat banjir air laut pasang atau rob hingga merendam pemukiman warga di dua kecamatan, Medan Belawan dan Medan Labuhan harus segera dibangun kembali oleh Pemerintah Kota (Pemko) Medan. Selain itu, Pemko juga diminta membangun tempat resapan air atau waduk.

Anggota Komisi B DPRD Medan, HT Bahrumsyah mengungkapkan, penanganan dini dapat dilakukan Pemko Medan dengan membangun kembali tanggul yang jebol untuk sementara. Pembangunan tanggul yang dilakukan juga harus lebih diperkuat agar tidak mudah jebol.

"Tanggul rob yang jebol di Kecamatan Medan Belawan meliputi enam kelurahan, sedangkan di Kecamatan Medan Labuhan mencakup satu atau dua kelurahan. Makanya, pembangunan harus segera mungkin dilakukan untuk mengantisipasi banjir air laut pasang yang sulit diprediksi," ujarnya, kemarin.

Menurut anggota dewan daerah pemilihan (Dapil) Medan Utara ini, pembangunan tanggul yang dilakukan seyogyanya secara permanen. Akan tetapi, melihat kondisi APBD Kota Medan maka tidak akan cukup. Sebab, luas wilayah Kecamatan Medan Belawan dan Medan Labuhan mencapai sekitar puluhan kilometer. Dengan luas segitu tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

"Pembangunan tanggul secara permanen memang tidak akan cukup apabila diambil dari APBD Kota Medan. Solusinya, anggaran diambil dari APBN dan saya sepakat hal itu. Namun demikian, bukan berarti harus menunggu dan tidak berbuat apa-apa. Untuk mengantisipasi, paling tidak dibangun tanggul manual tetapi mampu menahan banjir," kata Ketua Fraksi PAN itu.

Diutarakan Bahrumsyah, banjir rob yang terjadi beberapa hari terakhir ini merupakan yang terbesar sepanjang tahun 2018. Bahkan, airnya melewati jalan raya.

"Dalam membangun tanggul secara permanen apabila terealisasi nantinya, tidak bisa dilakukan per kelurahan. Melainkan, harus sekaligus di lokasi yang berdampak banjir. Kalau dilakukan per kelurahan, tentu ketika banjir datang maka kelurahan lain akan terdampak. Makanya, pembangunan tanggul harus sekaligus sehingga persoalan ini tuntas dan tidak menimbulkan ketimpangan," sebutnya.

Ia menuturkan, kondisi banjir rob di Belawan dengan di Jakarta berbeda. Misalnya, di Jakarta hanya satu garis perbatasan antara laut dan daratan. Sedangkan di Belawan dikelilingi anak-anak sungai yang cukup lebar dan melingkar. Jika dihitung-hitung luas anak sungai ini bisa mencapai 20 kilometer lebih.

Lebih lanjut Bahrumsyah mengaku, sejauh ini belum ada bantuan yang diberikan. Padahal, masyarakat yang terkena banjir juga membutuhkan uluran tangan. Hal ini dikarenakan rumah mereka terendam banjir yang cukup tinggi hingga mengakibatkan barang-barang rusak atau hancur.

"Bantuan yang diberikan setidaknya meringankan beban dalam waktu singkat, misalnya menggelar operasi pasar murah dan lain sebagainya. Sebab, akibat banjir yang terjadi di sana sempat mengakibatkan perekonomian masyarakat lumpuh," tukasnya.

Sementara, Anggota DPRD Medan lainnya dari Dapil Medan Utara, Surianto mengatakan, banjir rob yang terjadi hingga membuat jebol tanggul banyak faktor yang memicu. Misalnya, timbunan proyek reklamasi hingga pembangunan pergudangan serta perumahan di tempat resapan air.

"Jadi, solusi yang perlu dilakukan selain membuat tanggul secara permanen, membangun tempat resapan air atau waduk. Sebab, kalau membuat tanggul terlalu lama menunggu apalagi APBD Pemko tak mencukupi. Terlebih, pusat (Kementerian PUPR) belum menyetujui alokasi biayanya diambil dari APBN," ujar Surianto.

Anggota Komisi B itu mengaku, anggaran yang dibutuhkan membangun tanggul permanen di kawasan Medan Utara mencapai Rp600 miliar hingga Rp800 miliar.

"Tidak ada jalan lain memang tanggul menjadi solusi paling ampuh mengatasi banjir rob. Tetapi, membuat tempat resapan air atau waduk bisa menjadi alternatif dan memang memang Medan Utara membutuhkannya," tandas pria yang kerap disapa Butong ini. (ds/romisyah)
Komentar Anda

Berita Terkini